Aryan sendiri di sudut sekolah itu. Sahabatnya sedang berkumpul di pinggir ruang besar yang sedang mengumumkan kelulusan tahun ini. Kepala sekolah mereka sedang berpidato dan suaranya terdengar jelas oleh Aryan. Kata-kata beliau sungguh membuat Aryan ingin bergabung bersama temannya. Kemudian dengan berakhirnya pidato seluruh siswa yang berkumpul gelisah tadi bersorak sorai. Ternyata tahun ini tingkat kelulusan SMA itu kembali seratus persen.

Para siswa tadi berhamburan ketengah lapangan. Sebagian dari mereka merayakannya dengan kegembiraan yang biasa, walau ada yang sedikit berlebihan. Aryan pun juga ikut tersenyum melihat geng-nya melompat-lompat girang. Jo melakukan sujud syukur di dekat tiang bendera, itu dulu adalah tempat dia menjalani “hukuman dijemur”-nya, hampir setiap hari. Tapi geng Fikri tak lupa dengan janji mereka pada Aryan. Mereka tetap berjaga menunggu Elda.

Para orangtua siswa berjalan keluar ruangan dengan langkah yang ringan. Kecuali ayah Elda dengan wajah marahnya. Beliau berjalan dengan cepat dan tanpa mempedulikan orangtua yang lainnya. Elda yang dari tadi menunggu di pojok lain sekolah itu, didekati ayahnya. Terlihat ayahnya marah-marah memegang kertas hasil kelulusan dan nilai Elda. Kertas itu dilemparnya ke wajah Elda, kemudian beliau berbalik meninggalkan Elda. Aryan dari kejauhan tak bisa melihat jelas ekspresi wajah Elda.

Fikri memberi aba-aba kepada temannya. Mencegah Elda mengikuti ayahnya dan mengajaknya kearah Aryan. Elda bingung apa yang di-inginkan Fikri. Dia sebenarnya ingin menolak ajakan itu, tapi tenaganya untuk ber-argumen telah habis. Aryan mempersiapkan dirinya, dia menarik nafas panjang lalu menghembusnya perlahan..

***

Elda terhenti karena dia melihat Aryan. Fikri meyakinkan Elda, meski Elda terlihat menggelengkan kepalanya. Fikri terpaksa memegang pergelangan tangan Elda dan menariknya pelan, Elda terlihat enggan. Tapi langkahnya terus berjalan mendekati Aryan. Hingga kini Aryan dan Elda berhadapan, Fikri melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi tanpa disadari Aryan dan Elda, Fikri berhenti di samping dinding luar. Fikri ingin mendengarkan percakapan mereka, dia tak mampu menahan rasa penasarannya.

“ada apa Yan?” Elda berusaha mengendalikan nafas dan perasaannya.

“aku mau ngomong bentar ma kamu, nggak bakal lama kok” Aryan tersenyum.

“aku tahu, karena itu langsung aja” kata Elda ketus.

“ya.. ya.. Kamu memang berhak marah padaku El. Bahkan aku berharap kamu bisa membenci aku lebih dari ini. Tapi coba dengar dulu, aku tak pernah marah pada apapun yang pernah kau lakukan. Tak usah kau merasa bersalah, jangan sia-siakan waktumu memikirkan aku.” Aryan mencoba tersenyum lagi, tapi gagal. Dadanya bergemuruh hebat, keringat dinginnya keluar dan dia ingin memaki dirinya sendiri. Aryan masih sangat menyayangi Elda.

Reaksi Elda hanya diam. Dia menundukkan wajahnya dan tak mampu menatap wajah Aryan. Karena melihat reaksi  Elda hanya begitu, Aryan menambahkan kata-kata pahitnya.

“pergilah El, aku yang sekarang sudah jauh berbeda.”  Kata aryan gemetar. Elda mengangkat wajahnya dan menatap Aryan. Matanya sudah berlinang.

“kau memanggilku hanya untuk mengatakan ini?. kau tak berubah Yan, kau masih belum bisa berbohong dengan baik. SEKARANG AKU MAU KAMU JUJUR, apa mau mu sebenarnya?. apa sayangmu masih a..” kata Elda, tapi Aryan langsung memotongnya.

DIAAAM!!” teriak Aryan, Elda tersentak. “Aku tau kemaren-kemaren kau masih memikirkan aku El, karena itu aku hanya ingin kamu nggak sedih lagi. Sekarang kau sudah lulus dan kau akan merantau untuk melanjutkan sekolahmu. PERGILAH…El”. Aryan sekuat tenaga menahan tangisnya. Dia tak bisa mendengar kata-kata Elda lebih dari ini.

Gitu ya? itu rasa yang kau rasakan? kenapa kau nggak mau jujur Yan? aku nggak lulus Yanseratus persen kata kepala sekolah hanya kebohongan. SEKARANG, BIAR AKU YANG JUJUR, aku ingin selalu dekat kamu, Yan” Elda tak mampu menahan air matanya, dia menangis. Aryan tertegun dan semakin serba salah. Fikri yang dari tadi mendengarkan ikut terkejut.

Elda… kau… makin membuatku kecewa. LIHAT AKU ELSekarang aku hanya pemuda cacat. Aku ini tak berguna. SUDAH berat aku menerima kenyataan bahwa aku tak bisa lagi membantu temanku. Tak bisa berlari dan bermain musik bersama mereka. Sekarang kau membuatku lebih terbebani.” Aryan terisak. Elda mendekati Aryan.

“Kemungkinan aku bisa jalan lagi hampir nggak ada. LALU KAU MASIH INGIN DI SISIKU?. Kau tahu impianmu adalah menjadi wanita karir yang sempurna, dan tak malukah kau memilih lelaki cacat seperti aku ini?. Kita masih muda El. Ku mohon El, jangan tambah derita ini…” tangis aryan memecah sunyi lorong itu.

Elda mendekati Aryan yang terus menghapus air matanya. Lalu Elda merangkul Aryan erat, dan menangis dibahunya. Aryan tak bisa membohongi tubuhnya, dia ingin sekali saja memeluk elda. “cukup Yan, cukup…aku dah ngerti…nggak usah bicara lagi..”  Elda menenangkan Aryan.

Mereka berdua melepas gelisah dalam peluk yang sederhana. Mereka berbicara dengan kata bisu tanpa suara. Dengan peluknya Elda menyatakan bahwa dia menerima Aryan apa adanya, “tenanglah aryan”. Dan dengan peluknya Aryan menyatakan terima kasihnya. Mereka berdua menyadari ini adalah cinta. Sebuah rasa yang tak mengenal usia bahkan kecacatan yang dimiliki seseorang sekalipun.

Fikri menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia terhenyak, inikah alasan mengapa sikap Aryan berubah?. Mengapa dia sempat marah pada Aryan?. Bukankah perasaan Aryan memang selalu lembut selama ini?. Fikri menggigit kuku jarinya. Dia menahan rasa bersalah yang besar pada sahabatnya itu.

Tapi kemudian Fikri tersentak kaget kembali. Ayah elda datang kearah mereka dengan cepat. Tampaknya Jo dan teman-teman yang lain gagal menahan ayah Elda di parkiran. Fikri panik dan putus asa karena ayah Elda telah melihat Elda dan Aryan. Fikri mencoba menghalangi dan mencoba menjelaskannya. Tapi ayah Elda tak peduli dan mendorong tubuh Fikri. Mata ayah Elda memerah menahan amarah.

DISINI KAU RUPANYA ELDA…” suara ayahnya menggelegar. Elda dan Aryan melepas pelukan mereka. Wajah mereka kaget. Ini adalah situasi yang tidak mereka perkirakan…

Menunggu Keseriusan – Cerpen Cinta Remaja

 

Kontributor oleh Priastuti – indojaya.com

Cerpen Cinta Remaja: Menunggu Keseriusan

“Kia, sebenarnya aku sudah capek, kalo kita kayak gini terus, aku pengen kita berhenti ribut, musuhan dan bertengkar, kamu mau kan?”
“Heh, dengar ya Do, aku sebenarnya juga nggak pengen lagi ribut sama kamu, kamu kira aku juga nggak capek apa?”
“Iya ya, Kia, aku juga pengen bilang ke kamu sesuatu yang selama ini aku pendam, aku pengen ngomong serius sama kamu.”
“Ya udah, ngomong aja, apa?!!!”
“Kia sebenarnya, sejak pertama, sejak dulu sekali aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu……..”

“Haa …..?!!!! He-he ….he-he….”
“Kamu jangan ketawa, aku serius, dari dulu aku pendam perasaanku ini ke kamu, dan sekarang aku udah capek, makanya aku bilang aja ke kamu semuanya, kalo dari pertama kita kenal aku suka dan sayang sama kamu, tapi ..tapi… sebagai teman.
Apa-apaan sih si Dado ini, aku benar-benar benci sama dia. Beberapa detik yang lalu baru aja dia bilang kalo dia suka dan sayang sama aku, tapi kenapa sekarang dipertegasnya dengan kata-kata sebagai teman, aku jadi nggak bisa mengartikan dengan jelas, apa yang ada di ahti dia sebenarnya. Tapi mata Dado merah, dia seperti mau nangis, aku juga nggak tau harus jawab apa? Sepatah katapun nggak ada keluar dari mulutku.

Akhirnya aku ninggalin dia, dengan perasaan yang binggung dan masih bimbang, rasanya aku ingin mengungkapkan isi hatiku juga, tapi kenapa justru aku cuma bisa diam? Aneh banget? Andai aja Dado tau kalo aku juga punya perasaan yang sama ke dia, tapi kenapa akhirnya dia malah ngomong sebagai teman ya? Apa mungkin karena tadi aku meresponnya dengan ketawa, aduuuuh ….gimana ini? aku salah, andai aja tadi nggak ngetawain dia ……

Hari-hari pun berlalu, aku dan Dado nggak pernah teguran lagi. Selama ini walopun kami sering berantem, tapi satu yang nggak pernah kami lakukan, yaitu saling diam. Nah, sekarang udah hampir 2 minggu kami berdua nggak pernah ngomong lagi. Entah siapa yang mulai duluan. Yang jelas, aku dan Dado sampe sekarang nggak ada yang mengalah.

Siang ini, aku nggak menyangka melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau copot. Di cafe itu saat jam istirahat aku melihat Dado lagi duduk berhadapan dengan seorang cewek. Dia bukan karyawan di tempat kami kerja. Aku baru pertama kali ini ngelihat dia. Dia cantik, dan kayaknya mereka lagi asik ngobrol sambil ketawa-ketawa. Aku merasa sakit banget, aku cemburu, patah hati, marah dan benci banget sama mereka. apalagi sama Dado, apa maksudnya kayak gini, baru dua minggu yang lalu dia bilang suka dan sayang sama aku, dan cepat banget dia langsung dekatin cewek lain.

Aku terus mencoba menghindari dari Dado, kadang entah Tuhan yang mungkin mengaturnya, aku dan dia selalu aja selisih jalan, sampe-sampe kadang kami malah tabrakan, dan akhirnya dengan spontan kami langsung menghindar. Aku sebenarnya udah capek banget kalo terus kayak gini terus. Entah kapan masalah ini bakal selesai. Sampai akhirnya, aku dengar berita yang membuat aku kaget. Dado sekarang jadian sama cewek yang waktu itu aku pernah aku liat di cafe. Awalnya aku nggak percaya dan mungkin hatiku nggak bisa terima. Cepat banget rasanya Dado membuang jauh perasaannya dulu buat aku. apa mungkin selama ini dia nggak tulus ke aku?

Beberapa bulan berlalu, aku masih merasa menyesal dengan kejadian yang dulu. aku masih sering merasa sakit kalo aku liat Dado dan pacarnya.

Tapi apa boleh buat, semua udah terjadi, penyesalan selalu pasti datangnya belakangan. Sekarang yang membuatku masih tetap mau satu kerja dengan Dado cuma masa depanku, aku harus mikirin masa depanku juga, aku nggak mau gara-gara cowok hidupku hancur. Walopun sebenarnya jauh di hati kecilku, aku emang udah hancur, sakit, perih dan segala macamnya aku rasakan. Tapi untuk menghibur diriku sendiri, aku juga berhasil membenci Dado sepenuh hatiku. Aku bisa menghilangkan penderitaanku dengan cara membencinya. Yang aku rasa semakin hari aku semakin benci Dado.

Suatu hari, waktu bangun pagi aku ngalamin sesuatu yang lain, dalam pikiranku terlintas wajah Dado. Tiba-tiba hatiku jadi lunak, perasaan benci, kesal, sakit, hilang perlahan-lahan. Rasanya pintu maaf buat Dado udah terbuka lebar, tapi aku nggak tau kenapa aku tiba-tiba jadi selembut ini. Aku yang biasanya keras hati dan keras kepala sekarang terasa lemah dan cengeng banget. Nggak kerasa air mataku jatuh begitu aja, aku menangis sejadi-jadinya, perasaan yang campur aduk bermain di hatiku. Aku mulai menerima Dado di hatiku, aku merasa aku harus memaafkan dia, aku harus ikhlaskan dia buat siapapun, karena yang terjadi selama ini sebenarnya aku nggak pernah rela dia bahagia dengan siapapun, makanya timbul rasa benci di hatiku sendiri yang seharusnya nggak boleh aku rasakan. Aku udah jahat dan berdosa. Maafkan aku Tuhan.

Di tempat kerja, entah kenapa Dado kayak mencoba lagi buat deketin aku. Apa dia merasakan hal yang sama denganku? Dia mulai menegurku, dan tentu aja aku nggak nyuekin dia lagi. Di wajah Dado kelihatan ada rasa heran dan kaget, waktu aku merespon dia. Dia mencoba tersenyum, dan aku pun membalas senyumannya dengan tulus. Bahagia banget rasanya bisa membuat orang senang. Dan emang bahagia juga rasanya bila nggak ada rasa benci dalam hati. Sekarang aku udah bisa ikhlas merelakan Dado dengan cewek itu, dia pasti sangat bahagia kan? Di dalam hati aku coba untuk meminta sama Dado, karena terus terang aku belum berani buat langsung ngomong sama dia. Waktu Dado lagi sendirian dan nggak tau lagi mikiran apa, diam-diam aku menatapnya, aku seolah-olah bertelepati dengan dia dan mengirimkan kata maaf ke telinganya. Aku berdoa, ya Tuhan dia dengarin aku.

Malamnya, waktu aku nunggu jemputanku pulang kerja. Rasanya jantungku mau copot waktu Dado datang tiba-tiba menghampiriku. Spontan mengambil dua tanganku.
“Kia, aku mau minta maaf. Kamu mau kan maafkan aku?”
“……..ya.”

“Benar Kia? Kamu udah maafin aku? Sekarang berarti kita temanan lagi donk?”
“……..ya, aku juga minta maaf Do.”

“Kia, aku senang banget, akhirnya kita bisa temanan lagi, kamu tau nggak? Udah dua bulan kita nggak teguran.Aku nggak percaya selama ini kamu tahan banget kayak gini, kamu benar-benar keras Kia.”

“Yee …. emang kamu apaan donk? Kalo nggak keras juga? Kamu juga tahan kan, kenapa baru sekarang kamu berani tegur aku lagi, coba?”

Akhirnya, beban yang selama ini aku tanggung terlepaskan juga. Emang waktu yang lumayan lama banget untuk punya musuh di dunia ini. Dua bulan, aku nggak pernah teguran sama Dado. Selama itu juga aku jadi cewek jahat, kasar yang sering nyakitin hati Dado. Nggak cuma Dado sih, teman-teman di sekitarku juga kena getahnya lantaran selama ini mereka juga memaksaku buat memaffkan Dado. Tapi toh, dua bulan itu aku keras banget, dan nggak ada yang bisa meruntuhkan aku kecuali perasaanku tadi pagi yang tiba-tiba aja muncul waktu aku bangun pagi. Emang aneh.

Yang masih bikin aku penasaran, gimana ya kabar Dado sama pacarnya? apa mereka masih pacaran, koq anehnya beberapa minggu terakhir ini Dado pun jarang banget jalan sama cewek itu lagi. Apa mereka udah putus? Aku pun nggak pernah dengarin gosip mereka. Dan tiba-tiba aku tertarik banget buat mengetahuinya.

“Cewek kamu mana Do, koq sekarang aku jarang banget liat kalian jalan bareng?”
“Oo.. Dwi? Kita udah putus. Udah sebulan ini nggak ada komunikasi.”

Jadi mana cewek itu Dwi, cewek yang dibilang teman-temanku mirip banget sama Dado. Dan sering banget digosipkan kalo mereka itu bakalan berjodoh karena wajahnya yang mirip. Waktu aku masih benci sama Dado, aku berpendapat, soal jodoh kan di tangan Tuhan, belum tentu mereka jodoh hanya karena wajahnya mirip. Tapi, aku penasaran kenapa sampe putus. Yang aku amati sih, hubungan mereka kayaknya baik-baik aja. Kayak membaca pikiranku, Dado langsung menjawabnya.

“Dwi bukan cewek yang nggak benar, Kia. Ternyata dia suka mainin perasaan cowok, selain itu dia juga matre. Dwi, juga suka bergaul dengan teman-teman cewek yang nggak benar, suka ngerokok, pergi dugem, aahhh …. segala macamlah. Yang jelas, kayaknya aku nggak pernah bisa mencintainya dari dulu sampe sekarang.”
“Maksud kamu?”

“Ya, dari pertama aku kenal Dwi, aku berusaha keras buat cinta sama dia, tapi kayaknya yang selama ini aku rasa nggak pernah tulus. Aku nggak benar-benar mencintai dia.”
“Trus ….?”

“Ya, trus, berarti selama ini aku udah membohongi dia, aku bohong dengan diriku sendiri, dan aku juga udah bohong sama kamu.”
“Maksud kamu? Apa hubungannya dengan aku?”
Dengan pura-pura bego’ aku terus bertanya ke Dado, dan …
“Kia, aku masih suka dan sayang sama kamu.”
“Ha-ha …..ha-ha apa? Kamu nggak salah, serius ato bercanda?”
Aduuuh ……. kenapa aku tertawa lagi ya, ya Tuhan mudah-mudahan nggak melenceng deh.

“Bercanda ….!!!”
“Oww, bercanda ya Do? Kirain kamu serius tadi, ha-ha …ha-ha …ada-ada aja kamu.”
“Ya udah, aku pulang duluan ya, kamu belum dijemput juga?”
“Nggak tau deh, koq belum dateng ya?”

Beberapa saat suasana antara aku dan Dado jadi canggung. Sumpah, aku benar-benar kaget denger Dado bilang bercanda tadi. Aku mengutuk-ngutuk sendiri dalam hati. Jadinya koq malah kayak dulu sih? Gimana ini? Koq aku juga bego ya. Artinya, sebelum Dado pamit dan mencoba menghidupkan mesin motornya, tiba-tiba spontan aku memanggil dia.

“Dado, kamu sebenarnya serius ato bercanda sih? Kamu marah sama aku?”
“Lho, kenapa aku mesti marah sama kamu? Udah, nggak usah dipikirin, aku cuma bercanda koq…….”

Sekali lagi aku tanya sama kamu ya, kamu serius kan Do dengan perasaan kamu?”
“ ………..”

“Do, ayo jawab, aku benci banget dengan Dado yang kayak ini, kenapa sih Do dari dulu sampe sekarang kamu nggak pernah mau ilangin sifat gengsi dan jaim kamu?”
“Iya, Kia …..aku serius masih suka dan sayang sama kamu, dari dulu aku ngak pernah bisa melupakan kamu, walopun aku sudah mencoba membuka hati buat cewek yang lain. Tapi, entah kenapa aku selalu sayang suma sama kamu. Aku pernah berdoa Kia, moga-moga aja Tuhan mempersatukan aku dan kamu.”
“ …….Do, kenapa kamu susah banget buat ngomong kalo kamu itu sayang dan cinta sama aku?”

“Maaaf aku ya, jujur selama ini aku emang selalu mencoba jaim dan gengsi banget sama kamu. Aku malu, lantaran aku masih ragu dengan perasaan kamu sendiri Kia.
“Nggak Do, asal kamu tau, aku udah sayang banget sama kamu sejak pertama kali kamu bilang suka sama aku. Aku sayang sama kamu sampe sekarang Do.”

Akhirnya, semua udah terbongkar dan nggak ada lagi yang tersembunyi. Akupun udah merasa lega dan tenang banget bisa mengungkapkan isi hatiku selama ini. Ternyata perasaan aku dan Dado selama ini sama, cuma kemunafikan yang jadi penghalang kami. Sekarang setelah tau semuanya. aku bisa merasakan kebahagianaan yang dianugerahkan Tuhan buat aku. Terima kasih Tuhan buat semua ini.

Cerpen Cinta Remaja : Saat cinta berkata 2012-2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s