cerpen SEBAIT CINTA UNTUK WULAN (by: Dinda Cinta)

 

 

SEBAIT CINTA UNTUK WULAN

Wulan mengacak-acak rambutnya yang memang sudah awut-awutan. Pasalnya, tadi di toilet ia dikunci oleh genk centil Farbosa. Farbosa adalah singkatan dari Farissa, Beybi, Olive, dan Sandra. Mereka adalah genk centil yang paling populer di seantero sekolah. Sejak kedatangan Wulan sebagai murid baru, ia selalu saja menjadi bulan-bulanan Farbosa.

Apalagi sekarang mencuat kabar bahwa, anggota personil Smash akan mendatangi sekolah mereka yang notabenenya adalah terkenal dengan penghuni cantik. Alias sekolah cewek. Tentu saja dengan kabar itu genk Farbosa tak ingin kehilangan kesempatan. Ia melakukan eksekusi dadakan ke setiap kelas untuk mengumpulkan cewek-cewek yang lumayan cantik untuk dikurung di belahan tempat persembunyian mereka. Termasuk Wulan diantaranya.

“Heh.. apa-apaan ini?”

Wulan diseret-seret, kedua tangannya di pegang erat oleh antek-antek Farbosa. Tiba di ruangan yang agak gelap, ia berangsur-angsur beringsut bersama tawanan lainnya. Brakk pintu terkunci dari luar.

Wulan memandangi sekelilingnya. Banyak pasang mata yang membulat memandanginya.

“Tenang kawan kita senasib, kamu gak sendirian kok.” Kata seorang cewek yang mempunyai sepasang mata bola yang indah.

Wulan memasang muka datar saja. Senyumnya tersungging terpaksa.

“Kamu murid baru ya? Mereka memang begitu. Maklumlah, nanti jam 4 sore ada boyband terkenal yang mau kemping seminggu di sekolah kita.” Cewek lainnya menjelaskan.

“Terus hubungannya sama kita?” tanya Wulan yang masih sedikit lola (loading lama).

“Biasalah.. mereka merasa tersaing aja sama kita. Makanya yang bagi mereka dianggap cantik, mendekam deh disini..” tutur Ecy salah satu tahanan.

“Memangnya gak ada guru yang nyariin kita?”

“Ada, tapi mereka kan gak mungkin mecari kita satu persatu?”

“Trus gimana sekarang?”

“Ya udah tinggal nunggu acaranya berakhir.”

“Seminggu?”

Mereka semua mengangguk bersamaan. Sekolah tempat Wulan bernaung sekarang adalah sekolah bersistem asrama. Dan kalau ada acara seperti ini biasanya semua orang sibuk. Tidak saling urus.

“Memangnya siapa sih yang bakal dateng?”

“SMASH.”

“Apa??”

Mata Wulan melebar panjang. Ia mulai merutuki dirinya sendiri, menyesali diri kenapa harus terdampar di tempat seperti itu. Padahal di luar sana boyband favoritnya sedang menginap di sekolahnya. Ia berdiri dengan semangat membara.

“Kita harus keluar dari sini.” Katanya pada semua orang.

“Halaaaah.. percuma, pintunya aja dikunci bodigat di luar, udah tunggu nasib aja.”

“Gak, ini adalah kesempatan yang gak boleh terlewati sedetik pun. Apa kalian gak sayang jika harus berada disini, sementara mereka disana bersenang-senang?” semua mata kembali menatap.

“Terus apa rencanamu?”

Berkat kerjasama semuanya. Wulan mengatur siasat. Bila perlu ia ingin mengibarkan bendera peperangan dengan genk Farbosa.

 

Suara gedoran pintu membisingkan telinga.

“Woi.. bisa diam gak!” seru laki-laki berwajah sangar dari balik pintu. Tapi pintu tetap tergedor paksa. Pintu pun berdecit tanda terbuka.

Seorang gadis terlihat sangat pucat dan sangat kesakitan. Ia seperti menahan sesuatu. Perutnya ditekan dengan kedua tangan mungilnya.

“Kenapa kalian diem aja? Cepat panggil dokter.” Kata Lian memaksa.

“Baiklah, kalian tunggu mereka disini, jangan kemana-kemana.”

Satu bodyguard telah pergi, yang tersisa tinggal dua lagi. Siasat berikutnya pun dijalani.

“Aaaaa…….” seseorang dari mereka kesurupan. Ia mengejang tak beraturan. Si bodyguard panik dan ketakutan.

“Kamu tunggu di sini aku akan mencari bantuan.” Katanya meninggalkan temannya.

Satu lagi, kini giliran Wulan yang beraksi.

“Aku mau pipis.” Katanya datar.

“Ya sudah pergi… eh tunggu dulu, saya akan ikut bersamamu.”

Wulan mecetak muka kecewa di wajahnya. Tapi dalam hati ia bersorak, karena rencananya juga berhasil mulus. Bodyguard itu kembali mengunci pintu. Yang lain jadi gelagapan, karena mereka tak berhasil keluar. Tapi Wulan menyelamatkan kekecewaan mereka. Diam-diam kunci yang tergantung di kantong celana si bodyguard diambilnya kemudian berhasillah mereka kabur.

Lama Wulan diam di dalam toilet. Ia sedang memikirkan sesuatu cara untuk kabur.

“Shittt, sial. Tu orang masih di situ aja lagi.” Gerutunya kesal. Tiba-tiba ide beriliannya datang lagi.

“Bisa minta tolong gak? Aku dateng bulan ni, kamu taukan maksudku?”

Dengan cemas, si bodyguard malah bolak-balik keluar toilet. Bingung mungkin karena harus membeli pembalut wanita sendirian.

“Heyy… kalau keberatan, biar aku beli sendiri aja… udah tembus ni.” tawar Wulan.

“I-iya.”

Wulan bersorak gembira, ia keluar dengan berjingkrak sambil membelakangi si bodyguard. Tapi keberuntungan rupanya berpihak sebentar saja padanya. Bodyguard itu melihat rok Wulan yang biasa-biasa saja. Tanpa noda merah disana. Wulan menggigit bibirnya sambil cengengesan karena sudah ketahuan. Tanpa menunggu aba-aba lagi, ia langsung lari terbirit-birit.

Ia terus berlari tanpa menoleh depan, hingga menabrak tiang bendera di depannya. Seseorang pun dengan renyahnya menertawainya.

“Adduh…, wei gak punya perasaan banget sih? Bantuin napa? Orang jatoh tu dibantuin bukan diketawain…” sungut Wulan kesal.

Orang itu menjulurkan tangannya. Tapi Wulan menepisnya, ia bangkit sendiri.

“Gak perlu, udah telat.” Sambil memperbaiki pakaiannya ia menata juga kacamatanya. Setelah dirasa pas, ia melihat sosok yang selalu hadir dalam mimpinya. Ia membelalak, menyesal telah membentak sekaligus malu.

“Kamu gak apa-apa kan?” tanya Bisma salah satu personil Smash itu.

Wulan masih malu, tapi juga jual mahal. Ia tak ingin seperti cewek-cewek lain yang terlalu menampakkan kegilaannya terhadap smash.

“Emangnya kamu liat gimana? Sakit tahu?” sinis Wulan.

“Boleh aku bantu?”

“Ya ampuuuuuuun mau banget…” kata Wulan dalam hati. Walau hatinya menjerit, tapi mukanya tetap saja datar seperti tidak ngefans.

“Gak perlu.” Katanya terpaksa menahan diri yang sebenarnya sudah tak tahan lagi ingin memeluk Bisma.

Bisma menggaruk-garuk jidatnya yang tidak gatal.

“Cewek yang aneh..” katanya kemudian pergi setelah Wulan mengacuhkannya begitu saja.

Setelah Bisma meninggalkannya, ia baru merasakan sesal yang tiada terkira. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah galak pada Bisma. Ia menutup mukanya frustasi.

“Mau kemana lagi kamu bocah?”

Wulan mendongak memandangi sosok yang menyapanya garang.

“Siaaaaal….” katanya kemudian berlari-lari. Sampai ia menabrak lagi. Tapi kali ini yang ditabraknya bukan tiang. Tapi benda hidup yang tadi didampratnya di lapangan.

“Kamu lagi?”

“Plis, lupain kejadian yang tadi, sekarang kamu harus tolongin aku plisss…” kata Wulan mengiba.

“Gak mau.” Kini giliran Bisma yang jual mahal.

“Gak punya perasaan banget sih jadi cowok?” omel Wulan lagi. Itu membuat Bisma semakin mengacuhkannya.

Bisma berlalu begitu saja. Tapi Wulan menarik tangannya menahannya agar mau membantunya.

“Plisss…. sekali ini aja?” pinta Wulan memelas. “Aku janji akan ikutin apa mau kamu selama seminggu ini?” tawar Wulan lagi.

Tanpa pikir panjang, Bisma langsung setuju.

 

 

Sesuai janjinya Wulan harus rela berpakaian menor bin menjijikkan bin memalukan di depan umum. Bisma telah megerjainya. Tapi demi janji ia rela melakukan itu. Kemanapun Bisma pergi, ia selalu mengekor. Tapi ada untungnya juga sih dia dandan begitu, paling tidak bisa bertemu Bisma setiap hari selama satu minggu.

Dua hari berlalu begitu saja. Berkat penyamarannya itu, Wulan selamat dari kejaran para bodyguard Farbosa. Hanya dia yang belum ditemukan. Sementara teman-temannya yang lain sudah mendekam kembali di tempat yang sama.

“Sampai kapan sih kamu kerjain tu anak?” tanya Morgan yang sedang terlibat pembicaraan dengan Bisma.

Bisma menoleh Wulan, ia tersenyum pelan. Di pojok sana perempuan yang sudah didandani menor setiap hari itu sedang memandangi teman-temannya yang lagi sibuk foto-foto bareng Reza dan Rafael.

“Hhhh, andai aku bisa kayak mereka.” Helanya pelan.

“Coba kamu liat deh tampangnya, cute banget tahu… haha..” tawa Bisma renyah.

Morgan hanya geleng-geleng saja melihat tingkah temannya yang satu itu.

“Kamu suka ya sama dia?”

Bisma langsung tersendak mendengar pertanyaan Morgan.

“Perlu minum?”

“Ah, kamu ini ada-ada aja deh, mana mungkin sih aku bisa naksir sama cewek galak kayak dia?” kilah Bisma.

Yang diomongin langsung merasa, ia melempar tatapan marah ke arah Bisma. Pas, langsung tertancap ke mata Bisma. “Kamu lihat kan pandangannya? Hiiii mengerikan…” tutur Bisma bergidik.

Morgan senyum-senyum saja.

“Kalau aku yang deketin dia kamu gak cemburukan?” tanya Morgan.

“Tentu aja, buat kamu deh..” balas Bisma mantap, padahal dia sudah merasakan sedikit tusukan tajam mengenai kulit hatinya.

“Ok, tapi kamu jangan nyesel ya nanti?”

“It’s ok.” Tenang Bisma menjawab.

 

 

Dandanan Wulan yang menor abis, sudah berubah drastis jadi seperti Cinderella. Sesuai permintaan Morgan yang membuat Bisma tak bisa menolak. Cinderella itu kini jadi pasangan Morgan. Di hari ketiga, Wulan resmi bebas dari Bisma. Wulan memang sedikit merasa kecewa, karena yang paling diinginkannya adalah Bisma bukan Morgan. Tapi Morgan juga gak kalah keren dengan Bisma.

Selama bersama Morgan, Wulan tidak pernah merasa malu. Karena Morgan selalu memperlakukannya bak seorang puteri. Hal itu membuat kecemburuan yang sangat nyata dari tingkah Bisma.

Wulan yang sudah berani muncul di muka umum, kini merasa aman. Ia tidak takut lagi dengan genk Farbosa. Karena di sekelilingnya ada bodyguard yang jauh lebih baik daripada genk Farbosa.

“Lan, bisa minta tolong sebentar gak?” tanya Morgan.

“Of course..”

“Tolong kasikan ini buat bisma.”

“Hah? Oh, iya..” kata Wulan menyanggupi meski sedikit ragu.

Wulan masih ragu untuk mengetuk pintu kamar Bisma. Ia menggeleng lalu mundur hendak kembali. Tapi, ia datang lagi dan kali ini ia tidak mengetuk pintu. Gagang pintu itu bedecit pelan membuat yang berada di dalam terkejut. Tidak hanya itu, Wulan pun tak kalah terkejutnya melihat ada Farissa, salah satu genk Farbosa sedang menggelayuti tangannya di leher Bisma.

“Ma-maaf..” kata Wulan seraya mundur dan keluar berlari.

Bisma mengejar Wulan, ia tak ingin ada kesalahpahaman yang berakar di hati Wulan untuknya. Bisma menggapai tangan Wulan, ia membalik tubuh mungil Wulan kemudian memeluknya.

“Pliss, kamu jangan salah paham dulu, aku gak ada apa-apa sama Faris kok. Dia cuman mau foto bareng aja tadi.” Jelas Bisma masih dalam keadaan memeluk Wulan lama.

Wulan merasakan pelukan itu semakin erat. Membuat isaknya semakin menjadi. Mendengar isak itu, Bisma memeluk lagi Wulan lebih kuat.

“Pliss.. kamu jangan nangis Lan, aku gak sanggup liat mutiara bening itu merambat di pipimu.”

Wulan melepas diri dari Bisma, ia menyeka air matanya.

“Kamu gak salah kok Bis, kita kan gak punya hubungan apa-apa? Udahlah.. kamu jangan repot-repot menjelaskannya sama aku.”

“Tapi?”

“Udahlah.. kamu gak salah, jadi jangan merasa bersalah.. aku gak apa-apa kok.”

“Bohong.. katakan kalau kamu juga punya perasaan yang sama denganku?”

Kata-kata Bisma sontak mengukir detak jantung yang tak beraturan di hati Wulan.

“Gakkkk..” tolak Wulan terpaksa, ia sadar ada jurang perbedaan yang sangat dalam antara dirinya dengan Bisma.

Bisma memeluk Wulan lagi, “Aku mencintaimu Lan. Sangat mencintaimu. Maukah kamu mengisi belahan di hatiku? Maukah kamu jadi pacarku?” Bisiknya tepat di telinga Wulan. Membuat rongga vestibula perempuan itu berdesir lembut.

Wulan terkejut, tanpa menjawab apa-apa ia berlari begitu saja meninggalkan segores luka di hati Bisma.

Hujan tiba-tiba mengguyur SMA 45. Rintiknya telah masuk menyelat melalui pikiran dan perasaan Bisma. Ia tidak mampu mengartikan arti diam Wulan. Apakah gadis itu menolaknya atau dia memang masih memiliki harapan. Semuanya masih menggantung.

Sementara itu, Wulan sendiri menangis di atas loteng sekolahnya. Baginya disana adalah tempat persembunyian yang paling aman dan nyaman yang bisa ia tempati. Ia sendiri masih bingung pada hatinya. Satu sisi ia pun persis memiliki rasa yang sama dengan Bisma. Buktinya ia bisa begitu sangat cemburu melihat Bisma berduaan dengan Faris. Ia bingung bagaimana ia harus mengekspresikan hatinya sekarang. Ini benar-benar pilihan berat untuknya.

“Oh my God… help me please….” gumamnya sendiri dengan tangis berderai.

Tekk.. tekk.. tekk..

Suara detakan sepatu membuyarkan lamunan Wulan. Dengan cepat ia menghapus air matanya. Tak ingin ada yang tahu tentang hatinya yang sedang hidup dalam dilema sekarang.

“Tak perlu menutupinya dariku, aku sudah memperhatikanmu dari kamu berlari menuju kemari. Tempat ini indah ya. Kita bisa melihat pemandangan yang terhampar luas dari sini. Semuanya bisa kita nikmati hanya dengan kesini.” Ucap laki-laki itu tanpa menoleh ke arah Wulan yang masih menunduk dengan cemas.

Dengan ragu, Wulan mundur hendak menghindar. Tapi lagi-lagi ia dicegat oleh kata-kata Dicky. Salah satu personil Smash juga.

“Tidak perlu buru-buru begitu. Atau..kamu mau seantero sekolah ngeliat mukamu yang sembab itu?” tanya Dicky.

Wulan diam, ia tak jadi melangkah. Tapi juga tak ada kata apapun yang keluar dari bahasa bibirnya. Lama hening menyergap. Hanya tetes demi tetes air hujan yang menjadi iringan melodi yang sendu.

“Kamu mau tahu cara yang paling ampuh untuk menyembunyikan tangis?” tanya Dicky mencoba mengajak cewek cute itu bicara.

“Ah?” Dicky berhasil, ia dapat membuat Wulan menatapnya pasrah.

“Seharusnya kau tidak perlu memusuhi hujan. Asal kau tahu, hujan itu sangat membantu gelisahnya hati. Dengan menatap hujan hati menjadi lebih tenang. Dengan hujan juga kau bisa menyembunyikan derai air matamu itu dari pandangan orang.”

“Untuk apa kamu menasehatiku? Kamu gak tahu masalahku.” Sinis Wulan acuh.

Dicky memberikan seulas senyumnya, membuat gadis itu kembali terbungkam.

“Sudah.. ikut aku.” Kata Dicky sembari menyeret lengan Wulan. Gadis itu pun menurut saja tanpa perlawanan.

 

“Rentangkan tanganmu.” Perintah Dicky.

Wulan menurut saja apa kata cowok itu.

“Sekarang menangislah sesukamu.” Lanjutnya kemudian meninggalkan Wulan menikmati suasana hatinya yang kelabu sendirian.

Wulan masih menangis bersama hujan, ketika orang yang tak diharapkan memeluknya dari belakang. Ia terkejut, awalnya ia ingin menghindar. Tapi diurungkannya juga. Ia mencoba menikmati pelukan itu. Hampa tak ada rasa yang bisa menyembuhkan hatinya yang penat.

“Masuk yuk, entar kamu sakit lo sayang?” tawar Morgan lembut.

Rupanya sebelum Bisma menyatakan perasaannya pada Wulan. Gadis itu ternyata sudah lebih dulu dimiliki Morgan. Pasalnya, ini terjadi juga gara-gara Bisma. Karena kejahilan Bisma, Morgan jadi menyimpan rasa untuk Wulan. Ada bait-bait cinta yang menyemat di hatinya untuk Wulan. Dan sayangnya, Wulan telah terlanjur menerima Morgan menjadi pemilik hatinya. Meskipun pada hakikatnya pemilik jiwa itu secara utuh hanyalah Bisma seorang.

“Kamu menangis?” tanya Morgan cemas.

“Gak kok Gan, aku hanya sedang mandi hujan aja kok…” jawabnya asal.

“Masuk yuk.. aku gak mau princess aku sakit.” Ajak Morgan penuh perhatian.

Wulan menjawabnya dengan senyuman.

Morgan membawa Wulan masuk di suatu ruangan yang dikhususkan hanya untuk anggota Smash. Tentu saja dalam keadaan hujan yang lebat itu. Semua personilnya berkumpul disana. Termasuk Bisma.

Morgan dengan santainya merangkul Wulan ke tengah-tengah teman mereka. Bisma melihat itu, sejenak Wulan dan Bisma saling beradu pandang. Tak ada kata yang keluar. Hanya hati yang mengeluarkan segumpal isyarat tersiksa.

“Wah. Kayaknya ada hot news baru nih?” goda Ilham sambil melempar mata nakal ke arah teman-temannya yang lain.

“Hahaha.. gak kok cuman temen.” Jawab Morgan enteng.

“Cuman temen katanya?” tanya Wulan pada hatinya. Dan sekejap tanya itu langsung terlempar ke wajah Morgan melalui tatapan Wulan.

“Canda sayang..” elus Morgan ke rambut Wulan, disambut dengan gelak riuh dari teman-temannya.

“Aku mau ke toilet dulu.” Pamit Wulan.

Disusul dengan Bisma yang pelan-pelan mengikuti Wulan dari belakang. Sesampainya di depan pintu toilet, Bisma langsung meraih tangan Wulan. Menyandarkannya di tembok dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan maknanya.

Semula, Wulan menyangka Bisma akan marah. Tapi malah sebaliknya, ia tersenyum penuh keikhlasan. Membuat hati Wulan jadi ketar-ketir tak menentu.

“Jadi ini ya? Selamat ya.. aku ikut bahagia kamu sama Morgan. Aku tenang sekarang, paling tidak aku tahu Morgan. Dia baik, dia pasti bisa bikin kamu bahagia. “ cetus Bisma lesu tak bersemangat.

“Bohong!” tegas Wulan kembali dengan mutiara bening yang mencuat dari dua sudut matanya yang berlawanan.

Bisma melepaskan tatapannya.

“Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Berbahagialah.” Datar Bisma bicara dengan mimik pilunya. Ia berbalik hendak meninggalkan Wulan.

“Tunggu.” Wulan menggamit tangan Bisma untuk menahannya.

“Aku tahu, matamu gak bisa membohongiku. Aku tahu kamu tersiksa, sama denganku yang tersiksa melihatmu berpelukan dengan Faris.”

Bisma menoleh menukjukkan mata nanarnya.

“Sungguh aku sangat bingung. Di lain pihak, aku sudah menjadi milik Morgan. Tapi di sisi yang berbeda, aku bahagia kamu pun punya perasaan yang kusimpan untukmu semenjak kamu belum mulai naik daun.” Isaknya terhenti. “Sekarang semuanya sudah berbeda. Kamu tak lagi orang yang sepantasnya aku cintai dan harapkan.” Sambung Wulan dengan tangis yang kembali berderai.

Bisma menyeka air mata itu, “Aku bisa apa sekarang? Aku tidak mungkin bisa menyakiti hati Morgan.”

“Aku tahu.” Pelan Wulan berucap. Ia menunduk menatap ubin yang dipijaki kakinya.

Bisma memeluknya sekali lagi, merasakan damainya perasaan yang mewarnai ketersiksaan karena cinta yang tak mungkin memliki. Meski cinta telah berlabuh di tempat yang tepat. Namun sayang pelabuhan itu lebih dulu di tempati sahabatnaya sendiri, Morgan.

-end-

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s