HASIL Muktamar NU Ke-32, Anak Usia 6 tahun Boleh menikah !!!

 

Muktamar NU ke-32, NU Bolehkan Pernikahan Dini atau Kawin Gantung
Posted in Berita Utama by Redaksi on Maret 27th, 2010

DUA KANDIDAT: Dua bakal calon kandidat ketua PB NU, KH. Solahuddin Wahid (kiri) dan KH.Said Agil Siraj berbincang usai melakukan wawancara langsung di station televisi sebelum pemilihan ketua berlangsung dalam Muktamar ke 32 NU di Asrama Haji Makassar, Jumat, (26/3). Sebanyak tujuh orang kandidat akan bertarung dalam pemilihan ketua PB NU periode 2010- 2015 .

Jakarta (SIB)
Persoalan pernikahan atau perkawinan antara pria dan wanita yang masih di bawah umur alias anak-anak juga menjadi pembahasan serius di kalangan Ulama, Kiai dan peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Makassar. Malah, Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Waqi’iyyah memutuskan membolehkan pernikahan dini tersebut.
“Kawin gantung (mengikat) antara dua manusia, lelaki dan perempuan yang masih kecil atau di usia yang secara agama atau syar’i dimaksudkan agar saat mereka dewasa tetap pada pasangannya dan tidak berjodoh dengan orang lain,” kata Ketua Komisi Bahtsul Masa’il Diniyyah Waqi’iyyah, KH Syaufuddin Amsir, dalam keterangan persnya di Muktamar NU ke-32 di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat (26/3).
Syaifuddin menerangkan, kawin gantung adalah mengawinkan dua anak manusia yang masih berusia anak-anak, 6 hingga 7 tahun, baik perempuan dan laki-laki atas kesepakatan orang tua masing-masing. Diakuinya, selama ini tidak ada batasan yang menerangkan soal batas usia perkawinan, namun sebaiknya perkawinan dilakukan saat pasangan itu berusia baliq.
“Kawin gantung belum memiliki akibat hukum sebagimana nikah pada umumnya kecuali dalam hak waris dan pemberian nafkah, menurut sebagian ulama. Sementara soal bersetubuh bagi keduanya harus menunggu sampai kuat disetubuhi,” jelasnya.
Dalam kawin gantung seperti itu, lanjut Syaifuddin, bila kedua pasangan ini menginjak umur balig atau dewasa dan sudah merasa tidak cocok, makanya jalan bagi keduanya bisa menempur perceraian atau talak.
Syaifuddin menambahkan, walau persoalan ini telah diputuskan di tingkat bahtsul masa’il, tapi akan dibahas serta difinalisasi melalui sidang pleno kembali.
NU HARAMKAN AKAD NIKAH MELALUI ALAT ELEKTRONIK
Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyyah (hukum Islam) pada Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan rekomendasi mengharamkan akad nikah melalui alat elektronik, namun nikah gantung diperkenankan.
“Akad nikah tidak diharamkan melalui elektronik, karena ada syarat-syarat yang tidak dipenuhi yakni keterlibatan pengantin secara langsung, juga saksi dan walinya, dan lafadz akad nikah itu harus jelas,” kata Ketua Komisi Hukum Islam KH Syaefuddin Amsir di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat.
Menurut dia, proses pernikahan itu tidak boleh samar-samar, karena semua unsurnya harus jelas.
Sementara mengenai kasus penyadapan telepon atau kamera CCTV, ia mengatakan, hal itu diharamkan karena termasuk “memata-matai” untuk mengetahui hal yang tidak benar.
Namun hukumnya kemudian dapat berubah menjadi wajib, jika konteks penyadapan itu untuk membongkar suatu kasus yang merugikan publik.
“Hanya saja hasil penyadapan itu tidak boleh dijadikan alat bukti utama, namun hanya menjadi alat bukti pendukung saja di bidang hukum,” katanya.
Khusus Komisi Program pada Muktamar ke-32 NU direkomendasikan, untuk Bidang Kesehatan ditargetkan membangun rumah sakit yang diawali di tingkat wilayah (provinsi).
“Langkah NU dalam kurun lima tahun ke depan adalah membangun rumah sakit NU di tingkat provinsi,” kata Ketua Komisi Program KH. Abbas A. Muin pada keterangan terpisah.
Dia mengatakan, di tingkatan cabang (kabupaten/kota) sebenarnya sudah ada rumah sakit, jadi tinggal diikuti di tingkat provinsi.
Untuk mewujudkan hal itu, terlebih dahulu harus dibicarakan pada musyawarah kerja nasional, kemudian ditindaklanjuti oleh lembaga terkait.
NU SERUKAN KHITAN BAGI PEREMPUAN
Komisi Maudluliyyah yang membahas masalah-masalah tematik menyerukan khitan (sunat) bagi perempuan, karena didukung sejumlah dalil yang menguatkan bahwa khitan tersebut hukumnya dapat menjadi sunnah atau wajib.
“Khitan mar’ah (perempuan) ini, dianjurkan dalam ajaran Islam, sehingga hukumnya bisa jadi sunnah bisa jadi wajib karena didukung hukum yang kuat,” kata tim Komisi Maudluiyyah Dr M Masyuri Naim.
Menurut Rois Syuriah PBNU ini, masalah khitan perempuan di kalangan masyarakat masih diperdebatkan, bahkan karena sejumlah kasus akhirnya khitan perempuan itu dilarang. Seperti halnya kasus yang terjadi di Sudan dan di Bandung, Jawa Barat.
Dia mengatakan, persoalan kasuisstik itu hendaklah tidak melemahkan subtansinya atau hukum yang harusnya ditaati oleh penganut Agama Islam. Apabila ada kasus seperti itu, hendaklah tidak langsung diberlakukan secara general (umum).
“Ibarat seorang dokter melakukan kesalahan pada saat melakukan khitan, kemudian seluruh tempat praktek dokter ditutup,” katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, khitan perempuan ini perlu disosialisasikan agar akar rumput mengetahui secara jelas.
Mengenai adanya larangan khitan perempuan dari Departemen Kesehatan karena dianggap dapat menimbulkan seseorang menjadi frigid, apabila aturan dan anjuran Rasulullah SAW, hal itu tidak akan terjadi, karena ada kriteria-kriteria tertentu yang harus ditaati misalnya tidak boleh terlalu banyak memotong bagian ujung alat vital perempuan, tapi hanya mengikis semacam kulit arinya saja.
“Hari ketujuh pada saat kelahiran sangat dianjurkan, karena hal itu tidak akan mempengaruhi kesehatan atau menimbulkan pendarahan sepanjang mengikuti aturan yang ditetapkan,” katanya.
Lebih jauh dia mengatakan, komisinya selain membahas masalah khitan perempuan, juga membahas tentang bid’ah (hal baru dalam agama). Sebagai gambaran, seseorang yang menggunakan celana panjang dan tidak memotongnya diatas mata kaki, langsung dicap sebagai kafir.
“NU tidak akan melakukan hal itu, karena disadari kami hanya legislator, bukan eksekutor. Namun selaku legislator, kami akan senantiasa memberikan petunjuk atau Juklak kepada pihak eksekutor jika ada hal-hal yang menyimpang dari ajaran Agama Islam,” katanya.


 

 HASIL Muktamar NU Ke-32, Anak Usia 6 tahun Boleh menikah !!!

Jumat, 26/03/2010 17:16 WIB
Muktamar NU ke-32
NU Bolehkan Pernikahan Dini atau Kawin Gantung
M. Rizal Maslan – detikNews

Jakarta – Persoalan pernikahan atau perkawinan antara pria dan wanita yang masih di bawah umur alias anak-anak juga menjadi pembahasan serius di kalangan Ulama, Kiai dan peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Makassar. Malah, Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Waqi’iyyah memutuskan membolehkan pernikahan dini tersebut.

“Kawin gantung (mengikat) antara dua manusia, lelaki dan perempuan yang masih kecil atau di usia yang secara agama atau syar’i dimaksudkan agar saat mereka dewasa tetap pada pasangannya dan tidak berjodoh dengan orang lain,” kata Ketua Komisi Bahtsul Masa’il Diniyyah Waqi’iyyah, KH Syaufuddin Amsir, dalam keterangan persnya di Muktamar NU ke-32 di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Jumat
(26/3/2010).

Syaifuddin menerangkan, kawin gantung adalah mengawinkan dua anak manusia yang masih berusia anak-anak, 6 hingga 7 tahun, baik perempuan dan laki-laki atas kesepakatan orang tua masing-masing. Diakuinya, selama ini tidak ada batasan yang menerangkan soal batas usia perkawinan, namun sebaiknya perkawinan dilakukan saat pasangan itu berusia baliq.

“Kawin gantung belum memiliki akibat hukum sebagimana nikah pada umumnya kecuali dalam hak waris dan pemberian nafkah, menurut sebagian ulama. Sementara soal bersetubuh bagi keduanya harus menunggu sampai kuat disetubuhi,” jelasnya.

Dalam kawin gantung seperti itu, lanjut Syaifuddin, bila kedua pasangan ini menginjak umur balig atau dewasa dan sudah merasa tidak cocok, makanya jalan bagi keduanya bisa menempur perceraian atau talak.

Syaifuddin menambahkan, walau persoalan ini telah diputuskan di tingkat bahtsul masa’il, tapi akan dibahas serta difinalisasi melalui sidang pleno kembali.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s