peribahasa yg berpantun

Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang.
Hanya mau bersama saat sedang senang saja, tak mau tahu di saat sedang susah.

Menang jadi arang, kalah jadi abu.
Kalah ataupun menang sama-sama menderita.

Bagaikan abu di atas tanggul.
Orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.

Ada Padang ada belalang, ada air ada pula ikan.
Di mana pun berada pasti akan tersedia rezeki buat kita.

Adat pasang turun naik.
Kehidupan di dunia ini tak ada yang abadi, semua senantiasa silih berganti.

Membagi sama adil, memotong sama panjang.
Jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil dan tidak berat sebelah.

Air beriak tanda tak dalam.
Orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.

Air tenang menghanyutkan.
Orang yang kelihatannya pendiam, namun ternyata banyak menyimpan ilmu pengetahuan dalam pikirannya.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
Sifat-sifat anak biasanya menurun dari sifat orangtuanya.

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.
Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.

Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.
Sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

Tong kosong nyaring bunyinya.
Orang sombong dan banyak bicara biasanya tidak berilmu.

Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang.
Orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Karena kesalahan kecil, menghilangkan semua kebaikan yang telah diperbuat.

Bagaikan burung di dalam sangkar.
Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.

Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga.
Meskipun hidup dalam kemewahan tetapi terkekang, hati tetap merasa tersiksa juga.

Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh.
Seiya sekata dalam semua keadaan.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.
Segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan.

Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya.
Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.

Jauh di mata dekat di hati
Dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.

Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul.
Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.

Badan boleh dimiliki, hati jangan.
Ungkapan bahwa orang tersebut sudah memiliki kekasih, hatinya sudah ada yang memiliki.
Secara fisik mau menuruti segala macam perintah yang menindas, namun di dalam hati tetap menentang.

Lain di bibir lain di hati.
Perkataan yang tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak jujur.

Seperti lebah, mulut bawa madu, pantat bawa sengat.
Berwajah rupawan namun perilakunya jahat.

Ada harga ada rupa.
Harga suatu barang tentu disesuaikan dengan keadaan barang tersebut.

Membelah dada melihat hati.
Ungkapan untuk menyatakan kesungguhan.

Sedap jangan ditelan, pahit jangan segera dimuntahkan.
Berpikir baik-baik sebelum bertindak agar tidak kecewa.

Karena mata buta, karena hati mati.
Menjadi celaka karena terlalu menuruti hawa nafsunya.

Pandai berminyak air.
Pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksudnya.

Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan.
Kebaikan hati yang bisa dilihat dari tingkah lakunya.

Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa.
Mau bekerja dengan baik jika sudah mendapat teguran.

Jika ditampar sekali kena denda emas, dua kali setampar emas pula, lebih baik ditampar betul-betul.
Setiap perbuatan jahat itu sama saja akibatnya, meski besar ataupun kecil.

Lubuk akal tepian ilmu.
Seseorang yang dikenal memiliki banyak ilmu pengetahuan.

Nasi tak dingin, pinggan tak retak.
Orang selalu mengerjakan sesuatu dengan hati-hati.

Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri.
Belajar untuk mengendalikan diri dan meninggalkan kebiasaan bersenang-senang.

Seludang menolak mayang.
Sebutan untuk orang sombong dan melupakan orang lain yang telah berjasa dalam hidupnya.

Kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua.
Bisa menyampaikan maksud dengan cara yang tepat.

Pangsa menunjukkan bangsa, umpama durian.
Kita bisa melihat perangai seseorang melalui tutur katanya.

Ditindih yang berat, dililit yang panjang.
Kemalangan yang datang tanpa bisa dihindari.

Tertangguk pada ikan sama menguntungkan, tertanggung pada rangsang sama mengiraikan.
Suka dan duka dijalani bersama.
Keuntungan yang didapatkan dinikmati bersama-sama, kesusahan yang dialami diatasi bersama-sama juga.

Tambah air tambah sagu.
– Tambah banyak permintaannya, bertambah pula biayanya
– Bila bertambah anak, akan bertambah pula rezekinya

Sekali air pasang, sekali tepian beranjak; Sekali air di dalam, sekali pasir berubah.
– Setiap terjadi perubahan pimpinannya, berubah pula aturannya

Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi.
– Orang yang tidak mampu menolak bahaya yang menimpanya

Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang jua.
– Budi pekerti, amal kebaikan, akan selalu dikenang meski seseorang sudah meninggal dunia

Alang berjawab, tepuk berbatas.
– Perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan kejahatan pula

Cuaca di langit pertanda akan panas, gabak di hulu tanda akan hujan.
– Sesuatu pasti akan ada identitas atau tanda khususnya

Orang mau seribu daya, bukan seribu dali.
– Jika menghendaki sesuatu, pasti akan mendapatkan jalan, jika tidak menghendaki, pasti mencari alasan

Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan.
– Sesuatu hal haruslah dimusyawarahkan terlebih dahulu

Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan.
– Hawa nafsu tidak boleh diremehkan harus dijaga sebaik-baiknya

Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera.
– Bagaimanapun bodohnya seseorang, jika sekali tertipu, tak akan mau tertipu lagi untuk kedua kalinya

Jangan disesar gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia.
– Hal yang sudah pasti, kerjakanlah dengan sabar tidak perlu tergesa-gesa

Sehari selembar benar, setahun selembar kain.
– Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik

Di mana kayu bengkok, di sana musang mengintai.
– Orang yang sedang lengah mudah dimanfaatkan oleh musuhnya

Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting.
– Segala sesuatu yang berlebihan atau kurang akan berakibat kurang baik

Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata.
– Segala pekerjaan harus dilakukan menurut tata cara aturannya masing-masing

Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan.
– perundingan yang baik jangan disia-siakan, tetapi hendaknya dipikirkan secara dalam-dalam

Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja.
– Menantikan bantuan dari orang yang tidak dapat memberikan bantuan

Luka sudah hilang parut tinggal juga.
– Setiap perselisihan selalu meninggalkan bekas dalam hati orang yang berselisih, walaupun perselisihan itu sudah berakhir

Makan hati berulam rasa.
– Menderita karena perbuatan orang yang kita sayang

Untung bagaikan roda pedati, sekali ke bawah sekali ke atas.
– Keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di bawah dan kadang di atas

Kalau tiada senapang, baik berjalan lapang.
– Jika tidak bersenjata atau tidak bertenaga, sebaiknya mengalah

Peribahasa yang Berpantun

 

Next question: Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.

Apa? Hewan lagi? Oh, nooooooo…! Tuhan, emang kenapa sih kalau tupainya jatuh? Pernahkah kalian lihat atau dengar, tupai masuk tivi karena jatuh dari pohon?

Pe-mir-sa… Beberapa menit yang lalu seekor tupai jatuh dari pohon setinggi 200 meter dari permukaan bumi. Tupai ini nekat bunuh diri, setelah keinginannya untuk memiliki sebuah biji kenari tidak dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Dari informasi yang dikumpulkan, tupai ini bernama Ingki. Akibat insiden ini, terdapat luka memar di sekujur tubuhnya.

A-kan-kah ia dapat selamat dari kecelakaan ini? A-kan-kah kita akan melihat senyum manis Ingki lagi? PEMIRSA, INILAH INSAF INVESTIGASI…!”

Hohoho… Rasanya nggak pernah deh gue dengar berita seperti itu. Ya kan, kan, kan?

Terus, ngapain juga kita ngurusin tupai yang melompat terus jatuh? Akankah kita mengasih nafas buatan buat dia? Nonono… Gue bakal goyang ronggeng seharian kalau sampai disuruh ngasih nafas buatan! Noted: Jangankan ngasih nafas buatan, ngasih kentut beneran aja gue ogah. Jangan-jangan sebelum ngasih nafas buatan, gue udah pingsan duluan lagiii. Nggak sudi!

Di setengah petualangan, kepala gue udah ngak mampu lagi berpikir. Akhirnya kepala ini bergerak aktif mencari target sasaran buat menyelesaikan masalah, eh soal ulangan ini. Gue toleh si Rano, yang duduk tepat di sebelah kanan gue. Rano terlihat serius memainkan pulpen di kertas jawabannya. Gue geser badan secara perlahan mendekati Rano sambil membelalakkan kedua mata. SIAL… Gue gak bisa lihat jawabannya!

Ah… Bener-bener makin putus asa. Gantian, gue geser badan ini ke arah Nana, teman sebangku yang duduk di sebelah kiri gue. Perlahan gue naikkan posisi kepala. Yesyesyes, jawaban Nana kelihatan!

Tapi eh tapi… Belum hilang rasa gembira yang menari-nari dalam dada, tiba-tiba dengan cepat bak kilat, Nana menutup kertas jawabannya. Huh, Asem! Dasar pelit! Batin gue.

Gue mikir lagi,Tupai yang pandai aja kalau melompat pasti sekali waktu jatuh juga.Gue gak bisa banyangin,gimana dengan tupai yang bodoh ya? Pasti badannya udah gak berbentuk lagi,karena sering jatuh. Nahas sekali kau, Tupai!

Akhirnya, bismillah… Kertas jawaban gue isi dengan: Berhati-hatilah dalam melompat. (Sedap…!)

Gue tarik nafas sebentar. Beralih ke soal nomor enam: Barangsiapa menggali lubang, ia juga terpelosok ke dalamnya.

Baiklah, sekali lagi gue tegaskan kalau Bahasa Indonesia memang sukses buat gue jadi GIILLLAAA!

Ahhh… Tarik nafas lagi…

Berpikir, berpikir, berpikir…

Apa maksudnya, ya? Gali lubang? Buat apa? Mau menanam singkong, kah? Sepertinya enggak, deh…

Atau jangan-jangan mau gali kuburan? Tapi… Siapa pula yang mati?

Ahhaaa… Pasti mau buang hajat! (Emang kucing, apa ya?!)

Then, ngapain gali lubang segala? PUSIIING!

Di tiga per empat petualangan ini, otak gue yang sebesar biji jambu klutuk pun mengibarkan bendera putih pertanda menyerah. Ampun dah… Susssaaahhh…. BANGET!

Lagi-lagi gue pejamkan mata, komat-kami baca doa demi menenangkan saraf otak yang udah mulai keriting ini. Dan setelah agak tenangan, gue beralih ke pertanyaan nomor tujuh.

Bagai pungguk merindukan bulan. Pungguk… Apaan, tuh? Terus terang gue nggak tau apa itu pungguk. Nama orang, kah? Nama Hewan, kah? Nama tumbuhan, kah? Atau nama sebuah benda? Atau mungkinkah ada salah ketik di sini, seharusnya “punggung” kali yee? Karena suwer, gue baru sekali ini nih dapetin kata “pungguk”.

Siapakah Pungguk ini? Mari berandai-andai…

Kalau dimisalkan pungguk ini adalah seorang nenek sihir, memang ada betulnya juga. Seringkali kita dengar lewat dongeng dan saksikan di telivisi, kalau nenek sihir akan mencari mangsa dan mengobarkan mangsanya pada bulan purnama. Biar kekuatannya bertambah sakti mandraguna. Betul, nggak?

Tapi kini otak gue yang sangat cerdas ini berpikir, bahwa sepertinya pungguk bukanlah nenek sihir, kenapa? Ngak tau kenapa? Feeling aja sih. Hheee…

Di otak gue, pungguk ini pasti nama orang yang sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Yap, sering banget kan, orang zaman dulu menyamakan antara gadis dengan rembulan, walaupun banyak gadis zaman sekarang yang nggak rela disamaikan dengan rembulan. You know lah… Rembulan kan permukaannya bolong-bolong. Mana rela para gadis mukanya dikatain bolong-bolong? Yang ada punggungnya yang bolong seperti sundal bolong! Hehe…

Jawaban ini pun dapat gue jawab dengan mudahnya: Bagai pungguk merindukan bulan adalah CINTA YANG MENGGEBU-GEBU. Gubraaak! (Pingsan sambil kejang-kejang).

Lanjut lagi: Ada padang ada belalang. Ada air ada pula Ikan.

Yaiyalaaah… Ngapain juga sih ditanyain? Dimana-mana ya seperti itulah keadaannya! Nggak mungkin kan ada padang ada ikan, ada air ada pula belalang. Kecuali:

1.Ikan:

  • Ikannya udah mati terus dimakan sama petani di padang
  • Ikannya lagi rekreasi di daratan
  • Ikannya lagi mencari pekerjaan di padang
  • Ikannya udah bosan hidup
  • Ikannya lagi cari sensasi
  • Ikannya sudah menjalani operasi pengangkatan insang dan diganti dengan paru-paru.(Ini banci apa ikan, sih?)

2.Belalang:

  • Lagi mandi
  • Stres dan mencoba bunuh diri dengan nyemplung ke air.
  • Belalangnya lagi diving (menyelam)
  • Lagi main serialnya Spongebob (Ah, sumpe lo?)

Sebenarnya gue malas jawab soal ini, karena menurut gue tergolong dalam jenis soal yang nggak perlu dijawab. Kan sudah benar… Belalang ada di padang,ikan ada di air. Nah, berhubung gue orangnya menghargai nih soal, gue jawablah dengan sangat bijaksana: Syukurilah nikmat yang telah diberikan kepada kita. (Duhduh… Baru nyadar ternyata gue cocok banget jadi ustadz. Ustadz yang ngaur tapinya. Haha.)

Tolooong… Gue rasanya makin susah digerakkin lagi saking tegangnya. Menoleh sekeliling, gue kaget! Teman-teman sudah banyak yang keluar kelas. Rano dan Nana sudah get out dari bangku mereka. Ahhh, gue harus cepat kerjain nih soal. SEMANGAT!

Hati-hati menyeberang

Jangan sampai titian patah

Hati-hati dirantau orang

Jangan sampai…

Nih soal gampang banget sih! Nggak ada yang lebih susah lagi apa ya? (baca=sombong kuadrat). Untuk membuktikan omongan gue barusan, soal ini gue bantai secara mengenaskan. Dan jawabannya adalah: KESASAR. (Bagaimana?Hebat kan gue? Yaiyalah, Iwan gitu looooh! Huwahaha.)

Buat baik kepada-pada

Takut ada berhutang budi

Walau senyum suatu pahala

Jangan sampai…

Jawaban gue yang kesepuluh ini melengkapi kebodohan si Iwan, Yang menandakan gue harus ke psikiater sekarang juga!

Mau tau jawaban gue yang LUAR BIASA ini? Okeh, jawaban gue adalah… jawaban gue adalah… jawaban gue adalah…: SENYUM-SENYUM SENDIRI. (Hohoho… gue emang pintar, yaaa… Pintar ngarang maksudnya).

Setelah mengisi pertanyaan kesepuluh, langsung gue kumpulkan itu kertas jawaban. Sumpedeee… Gue pengen cepat keluar dari kelas ini. Kepala gue udah mau pecah. Gue takut kepala gue akan menjadi bom atom yang menewaskan seruruh siswa di SLTP gue ini. Badan gue sempoyongan, perut gue mules, gue pengen muntah.

Oh, Bahasa Indonesia… betapa sulitnya mempelajarimu. Tuhan, ampunilah dosa hamba-Mu ini. Beneran nggak bisa nggak belajar kalau mau ujian. Karena penyesalan selalu datang belakangan. Waspadalah… Waspadalah… Waspadalah…!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s