Satu untuk selamanya

 

Hai,, namaku Tiara Angelina.. kalian bisa panggil gue Tiara. Gue sekolah di salah satu SMA di Jakarta, kelas XII jurusan IPA. Gue punya sahabat dari kecil, mungkin dari lahir gue udah sama dia. Dia Aryani Fitriana Kurniawan, orangnya cerewet, kalau ngomong teriak-teriak, PD’an, centil, suka makan + shopping, kalau dibilang pinter ketinggian kali ya, hehe.. dia pinter kalau suruh bahasa korea, tapi 0 kalau suruh ngerjain kimia, maklum dia itu kalau udah pusing ngerjain tugas, pasti langsung ditinggal tidur. Tapi dia orangnya asyik, ramah, nggak gampang ngambek, supel sm siapa aja ( biarpun cerewet ) dan yang jelas dia sohib sejati gue kali ya. Beda jauh sama gue, gue orangnya nggak banyak omong, butuh ngerjain ya gue kerjain, nggak suka kalau ngerjain nggak serius, kebalikan dari sifatnya Ryan gue orangnya nggak centil kali ya, dan gue lumayan kalau suruh pelajaran yang berhubungan dengan hitung menghitung, ya mungkin keturunan kali ya, mama sama papa gue kerjanya di bank dan semuanya pasti berhubungan dengan hitung menghitung. Udah kali ya perkenalannya, lets go to my story…

 

Pagi ini matahari telah membuka selimut malamnya. Tepat di hari Minggu, gue udah buat janji jogging sama Ryan. Awalnya joggingku berjalan lancar, tapi beberapa menit kemudian “ brruuukkk “ tubuhku terasa tertabrak sesuatu. Aku terjatuh di dekat kolam. “woooyyyyyy” teriak Ryan keras. “awww” kataku perlahan dan berusaha untuk berdiri, namun sia-sia. “eh loe tu punya mata g sih, liat tuh temen gue, gara-gara loe dia jadi jatuh. Makanya kalo pake motor itu belajar dulu, jangan asal bisa naek doang, kalau ngendarain aja nggak bisa, apa gunanya beli motor kalau cuma buat nabrak orang” cacian Ryan terdengar sampai membelah seluruh taman kota. “maaf, maaf” kata pengendara motor itu “ loe kira dengan maaf temen gue bisa sembuh gitu, enak banget loe bilang gitu” teriaknya lagi “yan, udah dong, sakit banget nih kaki gue” ucapku perlahan “ya ampun ra, darahnya banyak banget” sambil menghampiriku yang duduk di samping kolam”. Aku memejamkan mataku sejenak karena memang sakit yang luar biasa. kemudian si pengendara motor mendekati kami berdua dan memegang kakiku “awwww” kataku setengah berteriak. Aku terkejut ketika dia langsung membopongku. Dan ketika itu aku sudah tak sadar lagi.

“ gue dimana?” tanyaku dalam hati ketika aku melihat langit-langit ruangan “ hay, ra.. lo nggak kenapa-napa kan? Gue khawatir banget sama loe, udah nggak sakit kan kaki loe? Untung loe cepet dibawa tu cowok kesini. Coba kalau dia lari dari tanggung jawab, awas aja kalau dia nggak tanggung jawab, bakal gue bawa tuh cowok ke penjara. Oh ya gue udah telfon nyokap sama bokap loe,biar mereka tau keadaan loe sekarang, mereka mau ngobrol via web cam sama loe” katanya tanpa spasi dan koma “aduhh la, loe tu gimana sih, mama sama papa gue itu paling khawatiran orangnya” kataku “ya sorry dech, abis gue panic banget” kata Ryan. Beberapa menit kemudian, orang tuaku yang berada di Jepang pun langsung menghubungiku. Panjang lebar mereka menanyakan keadaanku. Namun aku berusaha membuat mereka percaya bahwa aku baik-baik saja. “ la, yang di pintu siapa?” bisikku pada Ryan “ eh iya, sini” kata Ryan mempersilakan cowok itu. “ maaf ya, gue nggak sengaja nabrak loe” katanya lembut “iya nggak apa-apa kok” kataku tersenyum “ hemm,, ini orang ganteng banget, sopan, ramah, bertanggung jawab, rapi lagi” batinku tak henti-hentinya memuji “wooyyy, bengong aja” kata Ryan membuyarkan pikiranku “naksir ya?” “apaan sih ra,,” kataku malu

“ gue Randy Adiwinata” katanya seraya mengulurkan tangannya “ Aryani Fitriana Kurniawan ” jawab Ryan yang merebut uluran tangan Randy dariku. Aku tersenyum saja melihat tingkah centil Ryan “ gue, Tiara Angelina “ kataku bersalaman “ panggil aja…” belum sempat aku meneruskannya Ryan sudah menyambar saja “loe bisa panggil gue ryan, ana, ryani, fitri, nia, atau…” jawabnya terputus “gue panggil loe Ryan aja” jawabnya singkat, mungkin sudah bosan mendengar ocehan Ryan “kalau loe? Gue harus panggil loe apa?” tanyanya padaku dengan lembut. Huuuuffftt suaranya membuat hatiku tak berhenti berdendang. “panggil aja Tiara atau loe bisa panggil gue Angel”kataku. “sama kaya namanya” ucapnya pelan namun masih bisa ku dengar “apa?” tanyaku “owh, nggak kok, btw maaf ya atas perbuatan gue, gue tadi mau ada test sastra inggris jadinya harus ngejar waktu” katanya dengan nada bersalah “iya, nggak apa-apa kok” kataku sambil tersenyum “eh iya, tapi lain kali loe jangan marah-marah seganas itu ya ke orang lain, cukup sama gue aja” Randy berkata pada Ryan “apaa?? Emang iya ya, gue nggak galak kok, loenya aja yang berpendapat kaya gitu, gue kan cuma nggak mau loe lari dari tanggung jawab” jawab Ryan agak sedikit malu

“eh gue mau ketoilet bentar ya” kata Ryan yang meninggalkan kami berdua “hemm, ra gue boleh minta nomor hp loe g’? gue takut loe kenapa-napa, dikira gue nggak tanggung jawab lagi” pintanya “sini hp loe” kataku kemudian mengetik nomor hpku “oh ya Ren, loe kok masih disini. Kan loe ada test?” ucapku yang baru sadar “oh itu nggak usah dipikirin, yang penting tanggung jawab dulu. Itu besok bisa diurus” katanya singkat “gue jadi nggak enak sama loe, kenapa loe nungguin gue? Kan udah ada Ryan, loe ke kampus aja” ucapku tak enak “lho, kok jadi loe yang khawatir sama gue? Harusnya gue dong yang ngrasa bersalah” kata Randy “udah nggak apa-apa,, ilmu lebih penting dari segalanya” kataku pada Randy “ya udah kalo gitu, gue pulang dulu ya” katanya seraya mencium keningku. Oh my God, serasa mau terbang rasanya dicium cowok ganteng yang baru gue kenal. Dia tersenyum menatapku, mungkin dia tau kalau aku jadi salting.” Hem iya, hati-hati ya” kataku “bye..”.

“lho mau kemana, kok udah bye bye segala?” tanya Ryan yang baru datang “gue ada urusan sebentar, besok gue balik lagi kok” katanya seraya pergi “anehh” kata Ryan “ryaaaaaaa….. tau g sih loee, kening gue dicium sama Randy” kataku sambil memegang kening “haaahh???? You say what?” katanya tak percaya “gue mau dong” katanya histeris “ mau mau mau???” ledekku “loe curang ya? Pasti loe pake aji-aji??” tuduhnya dengan tertawa “ya iyalah, kan gue pake aji untung dicium dia, hahaahhaa” tawaku “pengeeenn” katanya keras “sssttt, berisik tau” kataku “eh nomor hp gue juga diminta dia” tambahku “alah, boong.. loe kan tukang boong” katanya tak percaya “eh, loe nggak percaya.. bentar lagi pasti dia nelfon gue” kataku ngawur.

 

Handphoneku berdering “tuuhh kan, dia telfon gue” kataku menebak, padahal tak tau siapa yang menelfon “halo, siapa ya?” tanyaku “gue Randy, gimana keadaan loe?” tanyanya di seberang sana “oh Randy (kataku dengan nada agak keras), aduh loe itu baru pergi beberapa menit yang lalu, masa udah nanya keadaan gue” kataku “kan gue mau mastiin, kalau loe itu harus aman selama loe sakit, kan yang buat sakit gue, jadi gue harus tanggung jawab dong” jawabnya panjang kali lebar kali tinggi “iya, iya.. lagi dimana?” tanyaku pada Randy “tiara udah kangen sama loe tuu” teriak Ryan kencang “hah? Kangen? Perasaan baru gue tinggal beberapa menit yang lalu, masa iya udah kangen sama gue” katanya menirukan gaya bicaraku tadi “eh, eh jangan dengerin Ryan, dia emang sirik sama gue..” kataku yang menjulurkan lidah ke Ryan “tiara suka sama loee renn” tambah Ryan lagi “nggak nggak nggak.. Ryan emang orangnya gitu, dia kaya orang stress kalau mau malem jum’at” kataku sambil tertawa “ kalo jawab iya, nggak apa-apa kok” kata rendy narsis “heyy tiara, yang stress loe kalii, inikan baru mau malem senin, weekkkk” Ryan menjulurkan lidahnya dengan kemenangan.

“brisik loe.. sana keluar keburu suster kesini terus kena peringatan loe” kataku mencibir “lho kok malah gue dicuek’in sih” ucap Randy diseberang sana “iya, gue keluar, takut mengganggu konsentrasi kalian” teriak Ryan sepuas-puasnya “sorry ya, Ryan emang gitu orangnya, maklum tadi pagi sarapan pisang sama pepaya, jadi ngoceh mulu deh” ucapku sambil tertawa “nggak apa-apa lagi, gue udah terbiasa kaya gitu, eh yaudah ya loe istirahat dulu aja, gue malah ganggu nih” katanya “aduhh, gue itu disini butuh hiburan kali, masa iya suruh tidur terus” jawabku “eh, bukannya gitu, lagian loe kan baru sakit jadi harus banyak istirahat, trus cepet sembuh deh” ucap rendy “ eh, btw gue nggak ganggu hubungan loe sama cewek loe kan?”tanyaku sengaja “ gue ngggak punya cewek lagi,, baru putus dua hari yang lalu”curhatnya “yesss” batinku. Aku terdiam beberapa saat, “heloow, kenapa loe diem aja” ucap rendy “eh, eh yaudah ya.. ini ada dokternya, bye” kataku menutup pembicaraan

“wah sepertinya kamu sudah sembuh ya, obatnya bereaksi cepat, kamu sudah semangat sekali” kata dokternya memeriksa kakiku “ya, Alhamdulillah dok.. udah sedikit baikan” ujarku “eh pak dokter salah, dia itu lagi jatuh cinta sama yang nabrak dia, jadinya dia langsung sembuh deh” kata Ryan yang baru datang “owh, jadi anak laki-laki tadi ya?” tanya dokter itu “eh, nggak kok dok, Ryan aja yang sok tau” kataku membela “halah bilang aja loe suka,, gitu aja kok repot” katanya puas “ya sudah, cepet sembuh ya.. mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang” kata dokter yang membuatku lega “yessss, akhirnya gue bisa mencium tanah rumah gue juga, dan cepet-cepet sekolah” kataku gembira “eh, ada tapinya lho, kamu harus istirahat untuk tidak beraktivitas apapun selama gips ini msih terpasang” tambah dokter “hah?? Maksud dokter saya harus izin sekolah gitu? Terus sampai berapa hari?” kataku kecewa “hemm,, ini kira-kira 1 minggu” katanya sambil memeriksa kakiku “what? 1 minggu? Mampus gue” kataku menepuk jidat “saya keluar dulu ya” pamit dokter “iya dok” balasku.

Setelah dokter itu keluar “ uwaaaa.. Ryan, gue harus gimana,, mana 1 minggu selama gue nggak masuk ada banyak ulangan lagi, gimana ini la” kataku panic “hahaha, makanya jangan suka ngatain gue stress, sekarang loe sendirikan yang stress” katanya bangga “besok ulangan kimia, matematika, sastra indo, trus selasa fisika, bahasa inggris, trus …” kataku terpotong Ryan “stop, jangan diitung lagi, gue pusing denger kimia, fisika, matematika, bla bla bla” katanya kesal “gue itu paling sebel kalau ada pelajaran kimia.. guru killer, suka teriak-teriak gaje, PD tingkat dewa, GR tingkat Himalaya, sombong tingkat menara eifell, dan … loe kenapa sih ra, liatin gue segitunya” katanya yang melihat ke arahku “udah?” jawabku singkat “hehee, kepanjangan ya, abis dia itu nyebelin, gara-gara dia gue jadi harus diles privat, coba kalau dia nggak lapor ke ortu gue kalau nilai gue jelek, pasti sekarang nggak akan ada les privat segala” katanya cemberut “itu sih terserah loe ya, yang penting sekarang kasih solusi ke gue supaya gue nggak ketinggalan pelajaran” kataku berfikir

“ahaaa,, gue ada ide” kata Ryan semangat “gimana kalau gue yang catetin loe, semua mata pelajaran selama loe sakit, gimana?” tanyanya “ya ampun ra,loe tu baik banget,, dengan senang hati gue terima tawaran loe” kataku senang “eitssss,, itu semua g gratis lho, ada imbalannya” kata Ryan “imbalan apa Ryan? Gue suruh traktir loe gitu, okey gue traktir sepuas loe deh” jawabku “traktir mah udah biasa kali, yang beda dong” katanya “ trus apa?” jawabku “ gimana kalau setiap ada pr, loe kerjain juga punya gue, yah?” tanyanya semangat “hahh? Ogah gue ngerjain punya loe,” jawabku pendek “yaudah, kalau mau ketinggalan pelajaran juga nggak apa-apa kok” ucapnya “iya,iiyaa.. ini karena terpaksa” ucapku,” okeeyy, deal.. kalau loe terpaksa gue seneng kok, kan loe kalau suruh ngerjain pr gue nggak mau,” ucapnya senang “yeee,, makanya belajar, jangan cuma makan aja” kataku “tok..tok tok..” suara pintu terdengar

“ yan, bukain” perintahku “iya, tuan putri” katanya sambil berjalan malas “lho, Randy.. loe kok kesini lagi, kangen ya sama gue?” ucap Ryan di ambang pintu “narsis loe ” teriakku “nggak, gue cuma mau nunggu tiara malam ini kok” katanya yang membuat hatiku semakin melambung “ oh my god,, Randy mau nunggu’in gue malam ini..” batinku “raaaa,,jangan terbang dulu kale,, dia cuma mau nunggu’in disini” teriak Ryan yang membuyarkan fikiranku “yeeee,, siapa juga yang melambung, biasa aja kaleeee..” balasku “eh Randy, udah makan, ni gue ada cake, mau?” tanya Ryan “hemm, gue malah bawa makanan buat kalian” katanya menunjukkan kantong plastic “loe bawa apa ren, nggak usah repot-repot dong” ucapku tak enak hati “ini cuma makanan biasa kok, kebetulan bibi gue baru masak kue juga, jadinya gue bawa” katanya “wahhhh,, enak bangettt” puji Ryan sudah melahab kuenya “enak banget” katanya lagi “iya dong, loe mau?” tanyanya “coba dong” jawabku “sini gue suapin” ucapnya “cyeeeee,, gue juga mau dong disuapin” ledek Ryan “yeee,, loe irii ya” ledekku balik “nggakkkk cuma dengki” katanya sambil tertawa “eh, eh.. tau nggak sih, loe berdua itu, seperti kata orang-orang , cinta pandangan pertama, hahahahahaaa” Ryan tertawa sepuasnya “heyy,, brisik tau” kataku “crekkkk, mbaa, tolong suaranya jangan keras-keras ya, disamping ada orang tidur” saran suster yang ada di ambang pintu “eh, iya sus” ucap Ryan gelagapan “makanya la, jangan teriak-teriak, gue sama tiara masih denger kok suara loe” ejek Randy

“yaudah ya, loe tunggu’in tuh si princess…” gue langsung bekep mulut Ryan biar nggak ngomong terus “lepass…iinn” kata Ryan terputus-putus “nggak usah di dengerin ya kata Ryan, dia emang suka ngawur” kataku yang masih membungkam mulut Ryan “udah, lepasin tuh, kasian dia nggak bisa ngomong” kata Randy membela “jangan dibelain, dia tu kalo dibela’in jadi tambah melambung” ucapku “ enak aja loe, yaudah gue pulang dulu ya, takut…” katanya menjauh dariku “ GANGGU..” teriaknya yang berlari keluar “hemmm,, jangan denger’in nini gambreng itu yaahh,, dia emang suka bikin gue malu” kataku yang sudah kena malu oleh Ryan “iya, gpp kok,, gue orangnya suka di ajak bercanda” katanya “btw, emang bener loe mau nemenin gue?” tanyaku memastikan “ya iyalah, masa gue boong” katanya “cewek loe g marah?” pancingku lagi “aduh tiara, gue itu udah putus dua hari yang lalu, jadi gue single dong sekarang” jawabnya. “loe sendiri gimana nih? Gue nggak apa-apa kan kalo nunggu’in loe, ntar cowok loe marah lagi” ucapnya “haha,, nggak kalii, tenang aja nggak bakal ada orang yang marah kok, gue dah terlanjur sakit sama cowok,, gara-gara cowok gue ngehabisin waktu gue buat menanti, dan betapa sakitnya saat gue tau kalo dia nggak punya perasaan sama gue” kataku yang sedikit terhanyut masa lalu “eh eh kok, gue jadi curhat sama loe sih” kataku yang baru sadar akan ucapanku “bagus deh, kalo gitu” katanya yang membuatku heran. “bagus????” tanyaku penasaran “eh,eh, maksud gue bukan gitu, ya sabar aja ya, nggak semua cowok gitu kok, masih banyak diluar sana yang tulus dalam hal cinta” katanya yang menyemangatiku “hah… bosen gue denger kata-kata kaya gitu” kataku lesu “ lho, semua orang kan punya kesempatan buat bisa jadi yang terbaik buat kita” katanya “ trus kenapa loe putus sama cewek loe?” tanyaku “mungkin dia bukan jodoh gue” jawabnya singkat. Selama kurang lebih 10 menit kami saling diam. Hanya terdengar suara di ruang sebelah. Hingga ia yang memulai pembicaraan “kok kayaknya kita canggung ya” katanya salting “hmmm,, iya nih, padahal tadi baik” aja, mungkin karena gue tadi curhat macem-macem kali ya” kataku yang menyesal telah curhat “curhat itu bikin hati jadi lega, loe bisa curhat apa aja ke gue kalau loe mau” kata Randy “gue boleh tanya sesuatu sama loe? Yah mungkin ini perasaan gue aja, atau apalah, kenapa sih loe perhatian banget sama gue, sampai rela bolos test segala, gue nggak apa-apa lagi” kataku yang merasa bersalah “nggak tau, perasaan gue seneng aja kalau di deket loe” ucap Randy yang membuatku terbang ke angkasa. “loe nggak suka ya, kalau gue disini?” tanyanya “bukan, bukan gitu,, gue cuma ngrasa, nggak enak aja sama loe, lagian gue juga ngrasa ada yang lengkap” jawabku “apa?” tanyanya lagi “nggak tau, ada something yang nggak bisa gue jelasin saat gue ketemu loe” ucapku jujur “mungkin sama, seperti apa yang gue rasain” katanya perlahan sambil menyelimutiku “good night” ia memberikan ciuman di keningku “good night too” balasku dengan senyuman.

“pagiiiiiiii” teriakan Ryan yang tak asing lagi bagiku “hmmmmm…” aku merentangkan badanku sepuas mungkin “lho, Randy kemana?” tanyaku celingukan kesana-kemari “dia keluar tuh, katanya mau beli sarapan” jawabnya yang meletakkan tas sekolahnya di meja “lho, emang loe nggak telat kalo kesini dulu?” tanyaku pada Ryan “tenang aja lagi ra, baru juga jam 6 lebih 15” katanya sembari melihat jam tanganya “wah tumben loe bisa bangun pagi, biasanya gue sampe jamuran nungguin loe” ucapku “yeee,, salah sendiri loe berangkat pagi-pagi, gue kan mesty make up dulu, trus rambut gue harus dicatok dulu, eh eh loe tu enak, baru ketemu aja udah dikasih perhatian super sama Randy, dia suka kali sama loe” kata Ryan “siapa yang suka sama tiara?” kata Randy yang masuk ke ruangan “ bukan siapa-siapa kok” kataku dan Ryan bersamaan “wisshhhhh, kompak bener nih…” katanya yang meletakkan makanan di meja dekatku “ nih gue udah beliin bubur ayam, gue suapin yah” ucapnya yang membuatku berkedip pada Ryan “loe berdua kenapa sih, ada yang aneh ya dari gue?” tanyanya penasaran “loe tu nggak aneh lagi, malah ganteng banget” kata Ryan keceplosan” “apa loe bilang? Coba ulangin lagi, gue kurang denger “nggak kok, gue nggak ngomong apa-apa, yaudah ya, gue mau ambil buku di rumah tiara dulu, trus langsung ke school deh, takut telat,, bye” Ryan langsung ngibrit keluar “aneh” kata Randy singkat

“haha, Ryan emang kaya gitu orangnya, aneh tiap hari” kataku “eh gue masih denger ra, have a nice day with Randy sang pangeran hati loe” teriak Ryan dari luar “loe tu bikin malu gue yaann” teriakku.“oh ya kok gue nggak pernah liat ortu loe kesini” tanyanya sambil menyuapiku yang duduk di tampat tidur “nyokap sama bokap gue ada di Jepang, trus gue disini cuma sama bibi doang, paling mama sama papa pulang 1 tahun 3 atau 4 kali” jelasku “owh gitu ya,, trus saudara loe?” tanyanya lagi “gue anak tunggal, makanya mama sama papa kalau gue kenapa-kenapa langsung heboh satu dunia denger kali ya, hehee” ucapku “owhh, loe anak tunggal,kra’in loe punya kakak gitu” katanya “nggak, gue anak tunggal, kok daritadi gue yang cerita terus sih, crita’in dong tentang kehidupan loe, ortu loe dimana, kakak loe atau siapa gitu “ mama sama papa gue juga nggak di indo, mereka di Singapura, trus gue disini sama kakak gue’’ katanya sambil menyuapku “loe sekarang tinggal ma dia dong, cewek/cowok?” tanyaku “cowok, namanya Rafael. Dia itu nyebelin banget, kaya kucing ngejar-ngejar tikus kalo lagi dirumah sama dia” ceritanya “loe enak, ada yang loe ajak bercanda, kalo gue.. paling cuma sama Ryan” kataku yang membersihkan mulut

“wah wah… sudah baikan total nampaknya ya,, “ kata dokter yang masuk ke ruanganku “iya dong kan harus cepet sembuh, nanti ketinggalan pelajaran lagi” kataku yang membereskan selimut “oh iya ini administrasinya” kata dokter “ sini dok” kataku “saya bayar dulu ya dok” kata Randy yang langsung pergi “yaudah beres-beres dulu ya, inget jangan capek-capek, jangan terlalu memaksakan untuk pakai tongkat dulu, besok hari senin datang kembali cek up ya” kata dokter “iya, dok” jawabku “saya permisi dulu ya” kata dokter yang kemudian pergi “mba, ini kursi rodanya, mau saya bantu duduk disini” kata suster “owh, nggak usah sus” kataku yang tak mau merepotkan “ya sudah saya keluar dulu ya” “iya, silakan sus”. Aku berusaha mengangkat kakiku perlahan, rasanya masih sedikit sakit, ya,, namun harus tetap digerak-gerakkan terus biar nggak kaku “sini, gue bantuin,, nggak usah dipaksa kalo nggak bisa” ucapnya sambil membopongku ke kursi roda “ thanks ya, lho kok loe yang bayar sih, gue juga mampu kali biayain “ kataku menatapnya “loe gimana sih, masa gue yang nabrak loe masa loe yang bayar, hemm loe tu jadi orang terlalu baik tau nggak” ungkapnya yang merapikan kasur “ emang gue baik ya? Perasaan cuma mau bayar administrasi deh” kataku “terus, klo gue ditanya Ryan gue mau jawab apa kalo admnistrasi yang bayar loe” ucapnya sambil mendorong kursi roda

 

“kita pulang?” tanyaku “ya, iyalah masa loe ma uterus-terusan nginep disini, takut gue nggak nunggu’in loe lagi ya kalo dah pulang” katanya PD “ihhhhh,, loe pd banget sihhh,, ya kan gue cuma nanya” kataku yang memang benar jawabannya “loe tenang aja lagi, gue bakal sering-sering kerumah loe kok, kan nggak mungkin Ryan tiap jam ada, gue bisa jagain loe kok” ucapnya sambil tersenyum ketika aku menolehnya “makasih” jawabku dengan senyuman pula. “naik taksi or…” tanyaku terputus “pak…” ucapnya yang melambaikan tangan “ini mobil loe?” tanyaku melihat mobil Honda Jazz warna abu melintas di depanku “ya,iyalah masa gue nyewa” katanya singkat “udah jangan banyak omong, sini gue angkat masuk” katanya sambil membopongkun masuk ke mobilnya “kok mobil loe sama kaya punya gue, warnanya sama lagi, trus sepintas tadi liat platnya kok ada kemiripan ya,, B 2305 RA trus punya loe B 2205 RA,, itu bukan lagi mirip tapi emang bener sama, cuma beda satu angka aja..”kataku terputus “jodoh mungkin” katanya yang mambuat aku senang bukan main “eh, non ini yang ditabrak mas Randy ya?, sudah sembuh non?” tanyanya pak sopir “ aduh pak, jangan panggil non ya, aq nggak enak sama bapak kan bapak lebih tua dari saya, panggil mba aja” kataku tak enak “waduh non, eh mba,, saya malah yang nggak enak kalau panggil non…” “Tiara” sahut Randy “eh iya mba Tiara, jujur ya,, baru kali ini saya disuruh orang panggil mba” katanya sungkan “nggak apa-apa lagi pak, semua orang di dunia ini kan sama, orang-orang yang sombong aja yang merasa dirinya punya kelas” jawabku “wah, wah mba ini…”

“apa loe bilang? Mba,, loe kira gue kakak loe apa, wekk” aku menjulurkan lidahku pada Randy “abis gue daritadi dikacangin terus, malah mba, mba,mba dan mba” katanya “wah mas Randy,, beruntung mas kalo bisa sama mba Tiara” katanya “halah pak udin, mana mau dia sama saya” kata Randy. Aku menoleh ke arah Randy yang sedari tadi menatapku, kulukis senyuman terbaikku untuk Randy, aku mengerti apa yang kusampaikan telah menjawab pertanyaan Randy. Tak sadar hingga aku telah sampai dekat rumah “pak, nanti kalau ada perempatan komplek, ambil ke komplek Rosella Vandria ya,, “ yang ini mba, tunjuknya pada salah satu perempatan “iya, trus lurus aja, nanti ada pertigaan belok kanan, trus rumah saya kanan taman” kataku sambil mengingat-ingat ada yang tertinggal “ran,,, kayaknya ada yang ketinggalan di rumah sakit deh” kataku mengacak-acak isi tasku “ran, loe liat…” ucapku terputus melihat Randy sedang memainkan BB’ku “Randy, sini dong.. loe liat apaan sih” kataku mendekat Randy yang sedang asyik “loe suka game itu?” tanyaku “gue suka…” “adventure” sambungku “kok loe tau?” ia menolehku “ya iyalah gue tau, orang loe maen game itu” kataku yang membuka kaca mobil “jangan kaget ya liat rumah gue, mungkin nggak sebagus rumah loe”

Terlihat bi Inah yang berlari kecil membukakan gerbang “pagi bii….” Teriakku dari dalam mobil “pagi mbaaaa…” teriaknya juga “heyy,, loe kok cerewet kaya Ryan sih kalo dirumah’ ucap Randy sambil mengamati rumahku, kemudian turun dan mengambilkan kursi rodaku “gue bisa sendiri kali ya” ucapku yang mencoba mau turun sendiri “nggak denger kata dokter ya, kalo nggak bisa nggak usah dipaksain” katanya yang membopongku keluar mobil. “welcome.. to my home sweet home” kataku “lho udin,, kok kamu bisa disini? Owh kamu jadi supir buat masnya to” katan bi inah yang membawakan barangku “woalah nah nah, kowe ki kerja disini to, mulane aku kok kaya inget jalan di sini” kata pak udin “ lha wong kamu pernah tak ajak kesini aja ndak mau kok” jawab bi inah “lho kok pada udah kenal?” tanyaku heran “lho lha udin ini kan masih saudara saya mba” jelas bi inah. Aku hanya manggut manggut saja denger bi inah dan pak udin bercerita “lho ini mas ran.. ran” ucap bibi mengingat-ingat “Randy” tangkasku “iya mas Randy, udin pernah cerita ke saya. Lho ini pacar barunya mba Tiara ya? Tuduh bibi tak jelas “eh,, eh..ini yang nabrak saya bi” jelasku yang geleng-geleng kepala.

“saya bakal ngrawat Tiara kok bi, bahkan sampai sembuh”ucapnya yakin “owh ya terima kasih masnya, mau tanggung jawab” katanya “lho nah, ini kalau bisa jadi pasangan cocok lho” kata pak udin sembari duduk di kursi teras “walah, walah malah pada disini to, ayo ayo masuk dulu, sudah tak siapin makanan kesukaan mba Tiara lho” kata bibi yang membuatku ingin cepat-cepat masuk “ayo ran, mari pak” ajakku masuk “amazing” kata Randy pelan “nggak usah segitunya kali, ini nggak apa-apa dibanding punya loe, hemm,, ini gue sendiri yang nyusun design rumah, ortu cuma beliin trus pasrahin semua ke gue buat design dalam rumah, aslinya dulu nggak kaya gini, tapi gue modifikasi jadi acak-acakan kaya gini deh” kataku “ eh eh,, loe pinter design ya, kok bisa bagus banget sih rumah loe, kalo dibanding sama rumah gue, hemm nggak ada secuil kali ya” katanya yang terus mengamati isi rumahku “gue suka kumpul-kumpul barang-barang yang antic, harganya nggak perlu mahal, disini gue ngumpulin yang murah tapi cocok dipajang” kataku yang menunjuk 2 almari dekat televisi dan samping aquarium “kenapa gue baru ketemu sekarang ya orang kaya loe” katanya “mungkin Allah baru bukain jalan kali” kataku “lho kok masih disini juga to, ayo masuk masuk,, jangan disini to mas,, din udiinnn” teriak bibi “iya tunggu,, aku lagi liat buah”an disini” kata pak udin diluar “petik aja pak mana yang bapak suka” kataku yang menjalankan kursi sendiri “eh loe mau kemana?” tanya Randy “gue kebelakang dulu ya bantu bibi” kataku.

“mas, mas,,” panggil pak udin “kenapa pak?” tanya Randy yang keluar dari rumah “lho kenapa bi, kok mereka keluar?” tanyaku “paling liat taman kecilnya mba Tiara sama buah”an deket kolam “yaudah deh aku kesana dulu ya” kataku meninggalkan bibi “heyy,, kok pada disitu sih” ucapku yang berada di teras “ itu kucing kesayangan loe ya” tunjuknya. Aku melihat ke bawah kursiku ternyata my sweety, kucing anggoraku sedang meliuk-meliuk kegirangan melihat kedatanganku. aku mengambil dan membopongnya di pangkuan “loe suka kucing sama kaya gue” ia mendekati ku “gue juga suka banget buah yang loe tanam,, anggur, gue udah metik beberapa” katanya yang mendorongku masuk karena malu dilihat pak udin. Setelah selesai makan, pak udin pulang dan Randy tetap tinggal. Ia membuatku serasa tak kesepian saat itu. hingga beberapa hari setelah itu aku mulai sembuh dan berlatih menggunakan tongkat.

“kalau loe mau pakai tongkat, pertama saat latihan jangan lama-lama berdiri pakai tongkat, kedua…” kata Randy yang ku potong “udah deh, gue itu udah bisa pake ini” kataku mengambil tongkat sebelah almari “gue coba ya,,” aku berusaha berdiri. Yah langkah demi langkah telah ku lalui. “yeee, gue bisa kan” saking senengnya aku sampai tak bisa jaga keseimbangan “brukkk… awww” aq terjatuh di kasur bersamaan dengan Randy menangkapku. “sorry,,” kataku yang menimpa Randy. Ia hanya menatapku beberapa saat “helloo.. bantu berdiri” aku melambaikan tanganku di depannya “loe itu perfect buat gue” katanya “hemm,, gombal deh loe” kataku yang masih dipeluk Randy “gue serius, sejak loe hadir dalam hidup gue, sejak gue ketemu pertama kali ditaman, sejak kita selalu ngehabisin waktu bersama, gue rasa itu lebih dari cukup buat gue tau segala hal tentang loe” katanya sambil duduk. Aku menatapnya dengan harap “Randy, nobody is perfect,, gue takut suatu saat loe bakal nyesel karena gue nggak bisa seperfect kaya pikiran loe,, gue cuma manusia biasa, sama kaya loe” kataku “ra,, gue nggak tau kenapa rasa ini muncul, gue juga nggak punya alasan kenapa gue suka sama loe, yang jelas ada rasa yang nggak bisa gue ungkapin pake kata-kata” katanya memegang kedua tanganku. “loe nggak sadar, banyak kesamaan-kesamaan yang ada antara kita?” tanyanya “gue cuma, nggak mau sakit karena cinta lagi, gue takut dengan pertemuan singkat kita bisa bikin gue sakit hati selamanya, sama kaya cinta lama gue, dia nggak pernah tau kalau gue menanti dia selama bertahun-tahun” ucapku yang menitikkan air mata. Randy mengusap dengan lembut air mataku, aku menunduk tak dapat menahan rasa sakit hati ini. “loe percaya sama gue?” katanya menegakkan wajahku. Aku mengangguk pelan “gue sayang banget sama loe” katanya memelukku erat “ gue juga sayang banget sama loe” bisikku di telinganya “ia melepaskan pelukannya “gue janji gue nggak akan jadi orang yang ingkar janji, gue nggak bakal ninggalin loe, kecuali itu karena kehendak Allah” katanya meyakinkan ku. Randy menatapku, hingga kami berdiam selama beberapa saat. Namun tiba-tiba “woyy…. Ngapain loe berdua dikamar… jangan jangan…” teriak Ryan yang datang masih dengan seragam sekolah “enak aja loe nuduh gue sembarangan” kata Randy “aku mengusap air mataku “ eh eh eh,loe apain Tiara, kok dia nangis” g masuk ke kamarku “ra, loe nggak kenapa-napa kan?” tanyanya cemas “gue baik-baik aja Ryan sayaangggg” kataku sembari tersenyum ke arah Randy “ran,,, kenapa sih loe berdua,,owh gue tauuu.. loe berdua jadian kaaannn??? Tanyanya semangat “kasih tau nggak yaa????” ucapku dan Randy bersamaan… “loe berdua jahattt” katanya melempar bantal. Kamipun saling berlempar-lempar bantal hingga kamarku yang super duper rapi berubah jadi pasar.

Yah begitulah kisah cintaku,, bisa dibilang ini hanya beberapa hari yang lalu, namun cinta tak pandang waktu, bila Allah menghendaki kapanku bisa terjadi. Bukan suatu hal yang mustahil dimata-Nya. Dan aku berharap cinta yang telah lama ku nanti akan tetap menjadi kenangan yang tak perlu di ulang kembali. Dan kembali menuju cinta yang senyatanya, Semoga ini adalah satu yang pasti dan akan menjadi selamanya dalam hidupku.

THE END

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s